PENDAHULUAN
Di awal abad ke-18, Jepang dilanda kekacauan. Pada masa itu, istana Shogun yang berada di Edo (sekarang Tokyo), marak dengan pameran keme-wahan, korupsi, serta pesta-pora di kota tua Kyoto. Sama sekali jauh dari aturan sosial. Kesenian makin berkembang; teater populer mulai lahir. Dengan makin berkuasanya klas pedagang, masa itu juga merupakan awal dari berakhirnya pengaruh prajurit bayaran, atau samurai. Hilangnya pengaruh ini sa-ngat mereka rasakan, terutama karena para samurai sangat membenci segala bentuk usaha yang ber-tujuan mencari keuntungan.
Di tengah perubahan yang membingungkan itu, kekacauan sering muncul. Kekacauan utama terjadi akibat petani dikenakan pajak di luar batas kemam-puan mereka oleh Shogun, penguasa di seluruh Jepang. Samurai jarang sekali menimbulkan kekerasan, suatu sikap yang merupakan bentuk penghor-matan atas tingginya latihan serta disiplin mereka.
Namun bahkan seorang samurai pun memiliki batas kesabaran. Khususnya bagi seorang daimyo muda yang terpaksa harus berurusan dengan tradisi istana yang sama sekali tak bermanfaat.
Peristiwanya terjadi di Edo tahun 1701. Dalam keadaan marah dan kecewa, Lord Asano dari Ako menyerang seorang pejabat istana yang korup se-hingga memicu serangkaian peristiwa yang berakhir dengan balas dendam paling berdarah dalam sejarah kekaisaran Jepang. Rangkaian peristiwa ini menge-jutkan seluruh negeri sehingga Shogun pun mengha-dapi kebuntuan hukum dan moral. Ketika semuanya berakhir, Jepang memiliki pahlawan baru - yaitu empat puluh tujuh ronin (mantan samurai) dari Ako.
Fakta sejarah atas tindakan mereka sangat jelas; tapi keterangan rinci tentang peristiwa itu sangat kabur. Berbagai versi telah dikisahkan dalam bentuk lagu, cerita, drama dan film.
Buku ini dimaksudkan untuk menyampaikan sebuah catatan tentang apa yang mungkin terjadi di masa itu, ketika Jepang dikucilkan oleh dunia dan tradisi lama masih mengatur kehidupan manusia.*
SATU
13 Maret, 1701.
Matahari yang mulai tenggelam membuat perairan di sekeliling kepulauan Jepang me-merah. Di barat daya, di jalan dekat Laut Peda-laman, seorang laki-laki tinggi menunggang kuda yang tidak terawat. Dia melindungi mata dari sinar matahari sambil berkuda melewati hutan pinus.Namanya Oishi Kuranosuke Yoshitaka; kepala samurai Klan Asano. Dia dalam perjalanan kembali ke kastil di Ako setelah berkeliling kota bersama putri majikannya yang menunggang kuda poni di sebelahnya. Surai kuda poni itu dibiarkan panjang tanpa dipotong.Mereka merupakan pasangan yang aneh. Oishi adalah laki-laki tampan berumur empat puluhan dengan dahi menonjol, rahang persegi, dan sikap yang tenang berwibawa. Rambut, sarung hakama
serta dua bilah pedang menunjukkan bahwa dia samurai, klas ksatria. Sedangkan anak itu mungil dan periang, bercahaya laksana kupu-kupu dalam balutan kimono dan obi. Keduanya tampak nyaman. Si gadis merasa terbebas dari disiplin ketat yang diterapkan orangtuanya; sedangkan Oishi merasa bebas bersama anak kecil, terutama anak orang lain, untuk melepas sikap resmi dan bahkan sedikit bercanda.
Sekarang, dalam perjalanan pulang, mereka tak banyak bicara seperti sebelumnya. Oishi terkejut dengan apa yang dilihatnya di kota.
Seumur hidupnya Oishi selalu menentang keke-rasan sesuai ajaran Budha, meskipun kadang dia terpaksa membunuh untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, atau membunuh hewan untuk mendapat makan. Secara pribadi, dia .menyesalkan kekejaman yang terjadi dalam pertandingan mema-nah anjing dan dia tidak keberatan bila olahraga semacam itu dilarang. Akan tetapi, Undang-Undang Pelestarian Hidup yang dikeluarkan Shogun ternyata sangat merugikan. Sekarang ini binatang lebih ber-untung dibanding manusia, dan ini membuat negeri berada di tepi jurang kekacauan ekonomi.
Di kota, Oishi melihat petani yang dulu sangat berhasil kini mengemis mencari kerja karena dilarang membunuh hama yang merusak tanaman. Serigala,
musang, burung dan serangga berkeliaran dengan bebas di ladang, sementara petani hanya dapat melihat tanpa dapat berbuat apa-apa.
Oishi tahu bahwa unggas diperdagangkan secara diam-diam di ruang belakang beberapa toko ter-kenal, namun pelanggaran atas undang-undang ini hanya sedikit. Bukan saja karena perangkat adminis-tratif pemerintahan Shogun sangat berhasil dalam menangkap para pelanggar hukum, tapi juga karena denda bagi mereka yang melukai makhluk hidup sangat besar. Dan bila membunuh binatang, "pelaku kejahatan" itu akan dihukum mati.
Ada golongan lain yang senasib dengan petani. Para pemburu, pemasang jerat, dan penyamak kulit juga beramai-ramai memenuhi kota untuk mencari nafkah. Dan yang membuat mereka tidak berdaya adalah lapangan kerja yang tersedia sangat sedikit sementara harga makanan tak terjangkau oleh rakyat biasa karena hasil panen tidak mencukupi. Satu-satunya yang bisa diperoleh dengan murah adalah gadis untuk menemani tidur karena makin banyak petani yang menjual anak gadis mereka ke rumah pelacuran.
Oishi sering menyusuri pusat-pusat hiburan itu ketika menemani putri Lord Asano berkeliling kota, tapi kini rumah pelacuran telah menyebar hingga ke jalan utama.
Sebenarnya, golongannya kurang merasakan kesulitan ekonomi ini, tapi dampak dari keputusan Shogun memengaruhi mereka dalam bentuk lain.
Kini tak ada lagi latihan atau pertandingan me-manah karena mereka tak boleh mencabuti bulu angsa untuk panah. Juga tak ada lagi lomba burung elang karena semua burung harus dilepas bebas. Bahkan Burung Elang Utama milik Shogun pun dilepas. Lomba ketangkasan berkuda menjadi seni yang hilang karena kuku kuda tidak boleh dipotong dan surainya tidak boleh dipangkas. Dan, menurut Oishi, yang paling parah dari semua itu adalah menurunnya nilai-nilai moral yang menyebar mulai dari ibukota Shogun hingga ke propinsi.
Dia mendengar berbagai laporan bahwa tari-tarian dan sandiwara yang membanjiri ibukota Shogun
Tokugawa Tsunayoshi mulai memengaruhi samurai
di kota ini. Dia bahkan mendengar desas-desus bahwa ada samurai yang datang ke teater kabuki di Kyoto, kota hiburan sekaligus kota kuil, meskipun dia tidak memercayai berita ini.
Sebenarnya hal itu sudah berlangsung beberapa lama, tapi Oishi belum menyadari betapa hal-hal buruk telah merambah sampai ke kota ini. Saat memikirkan laporan yang akan disampaikan pada Lord Asano, dia menoleh ke gadis kecil yang berkuda di sampingnya. Gadis itu tersenyum kepadanya tapi
kemudian terlihat lebih serius. Sang anak juga telah memerhatikan perubahan yang terjadi di daerah.
"Paman," tanyanya "mengapa pertanian ini tidak dirawat? Apakah tidak sebaiknya Paman laporkan pada ayah karena para petani tidak melakukan tugas sebagaimana mestinya?"
Oishi tertawa perlahan. Belum sempat dia men-jawab, gadis cilik itu melanjutkan, "Mungkin sebaiknya
kita jangan menyalahkan para petani sebelum mendengar penjelasan mereka. Tapi apa alasan mereka
menelantarkan ladang seperti itu?"
"Mereka terpaksa, gadis kecil, karena berdasar-kan Undang-Undang Pelestarian Hidup, mereka di-larang membunuh binatang yang merusak ladang."
"Kenapa ada larangan membunuh binatang -terutama yang benar-benar mengganggu?"
"Karena Shogun sudah melarang membunuh binatang. Dan, karena kami setia pada ayahmu sehingga kami tak berpikir untuk mempermalukan beliau dengan melanggar perintah pemimpin-nya, yaitu Shogun."
"Tapi kenapa dia membuat undang-undang yang keras itu?"
Oishi menghela napas panjang. Walaupun me-nyakitkan, dia bisa memahami alasan Tsunayoshi memberlakukan undang-undang itu.
"Karena dia sangat ingin punya anak. Anak
manis sepertimu. Kau tahu, dia pernah kehilangan seorang anak - putranya yang berusia empat tahun meninggal dunia. Dan pendetanya mengatakan bah-wa untuk bisa punya putra lagi, dia harus bertobat
- mungkin dia pernah menghilangkan nyawa bebe-rapa makhluk hidup. Kau sudah tahu kalau kita tidak lagi menggunakan anjing dalam pertandingan
- itu karena Shogun dilahirkan pada Tahun Anjing, Sekarang, membunuh anjing akan dihukum mati."
"Walaupun saat kita diserang?"
Oishi diam beberapa saat. "Dalam hal itu, membunuh anjing mungkin dapat dibenarkan - tapi akan lebih baik bila ada saksi bahwa anjing itu yang menyerang lebih dulu."
Oishi tersenyum. Si gadis membalas senyumnya, meskipun tidak yakin apakah Oishi bergurau atau tidak. Dia memutuskan untuk menaijyakan hal ini bila ayahnya sudah kembali dari Edo.
Sambil berteriak, dia menghentakkan kaki ke panggul kuda yang segera berlari kencang. "Aku akan mendahului Paman sampai di rumah," teriaknya yang sudah sepuluh langkah di depan Oishi. Rambut panjangnya yang tergerai melambai-lambai.
Oishi berteriak dahsyat laksana seorang ksatria yang hendak menyerang lalu berpacu mengejar gadis itu. Dia tetap mempertahankan jarak, dan bersama-sama mereka melewati jalan berliku menuju bukit
terakhir. Dari puncak bukit mereka dapat melihat kastil yang jauh di bawah, di tengah dataran yang luas. Letak kastil begitu strategis hingga penyerang takkan dapat mendekat tanpa diketahui. Peman-dangan itu selalu tampak luar biasa, dengan tembok yang tinggi serta menara yang beratap putih. Namun kali ini mereka tidak berhenti untuk mengagumi keindahan tersebut.
Matahari yang terbenam memantulkan bayangan panjang saat mereka berlomba menuruni bukit menuju kastil. Terlintas di benak Oishi bahwa bila matahari yang sama terbit kembali esok pagi, maka itu akan menjadi awal dari hari terakhir Lord Asano di Edo. la berharap seluruh upacara akan berjalan lancar di ibukota Shogun. Ketika si gadis memasuki gerbang, dan Oishi mengikuti dari belakang untuk menerima penghormatan dari penjaga, pikiran itu datang lagi; besok akan menjadi hari terakhir Lord Asano di Edo.*
15
DUA
Fajar yang dingin tiba menyelimuti Edo, ibukota Jepang kuno. Hari itu akan menjadi hari yang suram tanpa matahari. Angin dingin yang bertiup dari puncak gunung yang bersalju menghentak atap rumah di daerah pinggiran kota, menghembuskan debu di sepanjang jalan pos dari barat daya lalu memasuki kota.
Dalam perjalanannya, angin membawa serta bau kotoran manusia dari daerah persawahan, bau batu bara dari dapur, serta bau garam dari perairan asin di Lembah Edo.
Angin kehilangan kekuatannya di dataran ren-dah saat melewati lorong-lorong sempit yang berke-lok-kelok di antara bangunan-bangunan kayu yang merupakan tempat tinggal dan tempat usaha bagi sekitar tujuh ratus ribu pedagang dan seniman. Di atas atap bangunan, angin terus bertiup keras ke
dataran tinggi di tengah kota, menukik menye-berangi saluran air yang terbuat dari susunan batu lalu melewati menara-menara pengawas dan istana-istana di Kastil Edo tempat Shogun Tsunayoshi, pemimpin tertinggi.
Angin berhembus begitu kencang hingga me-nimbulkan bunyi keras. Menyapu pemakaman dan lapangan tempat pelaksanaan hukuman mati. Deru angin membuat seekor anjing kampung menyalak lalu diikuti anjing lain. Deru angin kian kencang dan menakutkan ketika berhembus melewati gubuk para pengemis dan istana-istana bangsawan, memekak-kan telinga baik orang miskin maupun kaya....
Lord Asano bersama Oishi sedang berkuda di padang rumput yang berkabut. Mereka melompati bangkai seekor babi hutan yang selalu mengancam para petani. Ketika mereka masuk ke kabut yang tebal, suara yang menakutkan membuat kuda Lord Asano gelisah. Oishi berhenti di belakangnya, tapi dengan tidak sabar Lord Asano semakin memacu kuda dan menghilang dari pandangan.
"Tuanku Asano!" teriak Oishi dengan rasa kuatir, "kembalilah, kembali!"
Rasa bangga Lord Asano takkan membuatnya berbalik dan kembali. Dia terus maju menembus kabut sampai bunyi yang aneh itu berubah menjadi lengkingan lalu terdengar lolongan yang memekak-
kan telinga. Dia merasakan kengerian yang mence-kam ketika makin terbawa suara itu dan kehilangan arah. Dalam kabut putih yang menyilaukan itu, dia tak bisa melihat sehingga kehilangan keseimbangan lalu jatuh. Suara itu makin keras. Dia tahu bahwa dia harus berjuang untuk tetap hidup dan melepas-kan diri dari setan-setan yang sedang menantinya. Dia berteriak minta tolong, dan pada saat itulah dia terbangun. Ternyata dia berada di rumah peristira-hatannya yang terletak di dekat kastil Shogun. Lolongan anjing itu menghilang terbawa angin.
"Suamiku!" teriak istrinya ketika dia bangkit melihat suaminya hendak menarik pedang yang ada di sampingnya. "Ada apa?"
Setelah benar-benar terbangun, Lord Asano lalu menggelengkan kepala dan melempar pedangnya. "Anjing itu," gumamnya. "Anjing-anjuig sialan itu."
"Kembalilah tidur," kata istrinya dengan senyum menenangkan. "Seharusnya kau sudah mulai ter-biasa dengan mereka."
"Aku takkan terbiasa dengan lolongan anjing-anjing itu dan semua yang berhubungan dengan tempat suram ini."
"Satu hari lagi," istrinya mengingatkan. "Setelah itu kita akan kembali ke Ako."
"Satu hari lagi," ulangnya dengan nada penuh
harap sekaligus sedih. "Satu hari lagi yang tidak menyenangkan."
la berusaha kembali tidur namun jantungnya masih berdebar karena mimpi buruk. Matanya tak bisa terpejam. Dengan gelisah dia menatap mentari pagi yang menyelinap melalui tirai. Lord Asano mengeluh dan keluar dari selimut tebalnya lalu berdiri dengan menggigil dalam pakaian dalam. la mengenakan jubah tebal, mendorong pintu kertas lalu berjalan keluar di lorong yang dingin.
Dia berjalan dengan langkah panjang di lantai kayu yang licin akibat tergosok kaus kaki orang yang melewatinya. Satu sisi lorong itu ditopang tiang kayu cedar wangi yang dibatasi papan shoji yang dicat; di sisi yang lain ada kerai untuk memisahkan koridor dari taman yang ada di luar, dan Lord Asano menggigil saat angin menggoyangkan tirai-tirai itu. Dia seakan kembali mendengar gonggongan anjing dalam mimpinya tadi.
Dia membuka pintu sorong menuju dapur lalu melangkah masuk. Dapur itu besar, lantainya ter-buat dari papan dengan perapian dari tanah liat yang tertanam di dalam lantai. Dua orang samurai yang berasal dari rombongannya sedang duduk menghangatkan diri. Ketika dia mendekat sambil menggumamkan salam, mereka langsung berlutut dan membungkuk.
Kataoka, samurai yang kurus tapi kuat dengan wajah mirip kera, hendak bergurau, tapi mengurung-kan niatnya setelah melihat wajah majikannya. Lord Asano adalah orang yang kaku, namun pagi ini dia kelihatan lebih kaku dari biasa. Samurai yang lain berwajah garang berumur lima puluhan. Namanya Hara. Matanya sayu dan kurang cerdik; dia hanya mengikuti sikap Kataoka yang duduk dengan posisi bersila di tepi perapian ketika sang majikan duduk.
"Kau tidak perlu bangun sepagi ini," kata Lord Asano pada Hara. "Aku hanya memerlukan Kataoka hari ini, dan yang akan dia lakukan hanyalah berdiri di luar kastil sambil memandangi menara dan mela-mun tentang rumahnya."
Hara menggerutu dan melirik sebentar, kemu-dian menunduk kembali lalu mengangkat mangkuk nasi dan makan. Kataoka menunduk sambil menye-ringai seperti kera, senang atas kehormatan itu, tapi kemudian dia terbatuk karena asap perapian yang menyerbu wajahnya. Saat Lord Asano meraih teko yang tergantung di atas perapian, asap masuk ke matanya hingga dia memaki sambil mengembalikan teko ke tempatnya.
"Mimura!" dia memanggil, dan bunyi langkah yang diseret dari dapur kecil menandakan bahwa Mimura mendengar panggilannya.
Pelayan itu, pemuda bertubuh tinggi dan kaku,
cepat-cepat memasuki dapur dan menunduk ke arah majikannya. Saat mengangkat kepala, dia melihat asap yang menyebar ke segala arah, tidak ke lubang asap. Dia segera meraih ke dalam tungku untuk mengambil kayu bakar berwarna hijau yang menye-babkan asap.
"Siapa yang meletakkan kayu itu di sana?" tanya Lord Asano dengan marah. "Kau seharusnya lebih tahu, Mimura. Tidak bisakah kau bantu mengawali hari yang suram ini dengan lebih baik?"
Mimura memohon maaf dalam kata-kata yang sangat sopan dan menggumam soal kebodohan pelayan api yang baru. Setelah itu dia berjalan ke pintu dapur kecil lalu memanggil.
Setelah beberapa kali memanggil barulah pelayan
itu datang. Mimura memarahi atas kelalaian pelayan itu, tapi jika dia mengharapkan permintaan maaf maka dia akan kecewa. Pelayan itu, dengan suara keras, mengatakan bahwa Mimura dapat me-nyalakan perapian jika tidak banyak bicara, lalu dia pergi sambil membanting pintu dapur.
Semua yang berada dekat perapian kaget. Hara langsung berdiri dan mengambil pedang.
"Apa maksudnya bicara seperti itu?" serunya sambil melangkah ke pintu dapur.
"Jangan, tunggu," kata Lord Asano pelan namun berwibawa. "Dia hanya anak-anak. Lagi pula, kau
akan mendapat masalah bila melukai anak itu. Hukum di sini berbeda; kita tidak bisa bertindak seperti di daerah kita."
"Tapi menghina pelayan Anda berarti menghina Anda," Hara bersikeras. "Setidaknya aku potong lidahnya, bila Anda tidak mengizinkan aku me-menggal kepalanya."
"Duduk dan minumlah teh. Kau harus mulai belajar kebiasaan di Edo. Di sini, kedatangan dan kepergian daimyo dari berbagai propinsi adalah hal yang biasa sehingga mereka tidak takut, bahkan bagi seorang pelayan."
Masih menggerutu, Hara menyingkirkan pedang-nya lalu duduk. Dia memerhatikan dengan hati-hati ketika Mimura membuka pintu dapur kecil dan melangkah keluar. Tak lama kemudian terdengar bunyi tamparan dan teriak kesakitan. Hara ter-senyum ketika Kataoka tertawa keras.
"Itu akan membuat monyet kecil itu kapok," teriaknya dan menyeringai mirip kera. Yang lain tertawa dan Kataoka senang bahwa dia telah mem-bantu majikannya terhibur, walaupun hanya untuk sesaat.
"Seandainya orang Edo tidak susah diatur," kata Lord Asano sambil menghela napas dan mengambil nasi. "Terutama dengan mereka yang memiliki se-dikit kekuasaan."
Kedua samurai saling pandang. Mereka tahu maksud majikan mereka.
"Semua pesolek istana seharusnya disingkir-kan," Hara menggeram, dan Kataoka mengangguk setuju. "Mereka berbicara dan berpakaian seperti perempuan, dan sama-sama merepotkan."
"Tapi, semuanya akan berakhir besok," kata Lord Asano. "Setelah itu kita pulang ke Ako dan melupa-kan tempat ini. Coba pikirkan bagaimana rasanya ketika daimyo seperti ayahku harus tinggal di sini selama enam bulan setiap tahun."
Mereka setuju bahwa aturan yang sekarang ini lebih baik daripada dulu, dan mereka pun makan. Dengan sedih Hara menatap mangkuknya dan Lord Asano tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Setidaknya dulu kita bisa makan nasi dengan sedikit daging dan ikan, bukan begitu Hara? Yah, mungkin kelak kita bisa makan daging dan ikan lagi bila Undang-undang Pelestarian Hidup dibatalkan. Undang-undang itu mungkin menguntungkan bina-tang tapi tidak untuk kita, manusia." Dia meletak-kan mangkuk dan menghela napas lagi. "Sebagian besar undang-undang tampaknya hanya dimaksud-kan untuk menyiksa kita. Dan peraturan istana soal etika tak bisa kumengerti. Seandainya aku tak ber-gantung pada perintah orang seperti Kira!"
Dia mengutuk orang itu. Sekali lagi Hara dan
Kataoka saling menatap dengan cemas. Mereka tahu kalau sang majikan takkan menjelaskan masalah ini - tak pantas baginya untuk mengutarakan kepri-hatinan pribadinya pada mereka - tapi mereka tahu bahwa Kira, Pemimpin Upacara Istana, membuat Lord Asano menjadi susah. Dan mereka juga tahu tak ada yang dapat mereka lakukan.
Nama Kira tertancap di benak Lord Asano se-perti tulang yang tersangkut di tenggorokannya. Dia tak pernah menikmati kunjungan ke tempat ini. Tapi kali ini dia terpaksa turut dalam tugas resmi, bukan sekadar penonton, dan harus selalu berhubungan dengan bawahan Shogun. Sebenarnya Kira bukan daimyo, karena dia tidak punya wilayah dan juga bukan penguasa. Tapi kenyataan bahwa dia pernah diutus ke Kyoto untuk belajar tata upacara di istana Kaisar telah memberi gengsi dan kekuasaan yang dimanfaatkannya untuk memperoleh keuntungan lewat suap dari orang yang terpaksa belajar darinya.
Malam sebelumnya Lord Asano sudah menulis surat tentang Kira untuk kepala pengawalnya, Oishi. Dalam suratnya, Lord Asano seolah ingin mena-warkan saran soal cara bersikap di kota itu.
"Kau harus berhati-hati pada Kira. Dia menikmati
kepercayaan Shogun dan seolah dia orang yang setia, tapi sebenarnya dia suka meminta
suap serta memanfaatkan jabatannya. Tampak-nya hanya ada satu cara bila berurusan dengan orang seperti itu, yaitu ikut dalam permainan-nya, tapi aku menolak cara seperti itu meski-pun Kira selalu menyulitkan aku. Tapi, tak peduli apa yang terjadi, aku takkan membayar jasanya yang sudah seharusnya disediakan Shogun. Mungkin ini sikap keras kepala, tapi sepengetahuanku, ini sikap terhormat yang harus dilakukan para samurai. Mungkin aku takkan bisa mengembalikan kemerosotan yang telah melingkupi istana, tapi setidaknya aku akan berusaha bertahan semampuku."
Dia ragu bahwa kata-katanya dapat dianggap seba-gai nasihat, tapi setidaknya dia dapat mengeluarkan isi hatinya.
Dia menyelesaikan makan dan bangkit sambil menghela napas.
"Sudah waktunya memakai pakaian 'badut',"' katanya pada Kataoka. Mereka lalu keluar dari dapur sementara Hara duduk dengan perasaan marah pada kekuatan yang telah membuat majikannya risau.
Di kastil, Kira juga bangun pagi. Sebagai Pemimpin Upacara untuk semua acara di istana, dia wajib
25
John Allyn
tampil tak tercela, baik dalam berpakaian maupun dalam bersikap. Jubah yang disediakan untuknya memiliki gaya yang sama dengan para daimyo dan pejabat istana yang datang, namun warna hitam gelap dengan hiasan warna putih di bagian atas lengannya yang sangat lebar membuat penampilan-nya menonjol.
Kira selalu berusaha terlihat lebih tua agar, menurutnya, itu akan membuatnya lebih bermarta-bat. Namun, selain dua garis di dahi, tidak ada keriput di wajahnya. Badannya yang gemuk pun masih terlihat kuat dan gesit. Giginya, sesuai kebia-saan mutakhir, dihitamkan agar pada saat bicara, orang hanya akan melihat lubang gelap yang tidak bergigi.
Saat ini Kira mencemaskan sikap salah seorang daimyo. Lord Asano adalah samurai yang dididik dengan cara lama dan tidak tahu kalau menyuap orang yang tepat akan menguntungkan. Dan karena alasan inilah dia menjadi ancaman bagi gaya hidup Kira.
Sudah tiga hari Kira mencoba lewat bujukan, isyarat dan akhirnya lewat penghinaan untuk me-nyampaikan pada Lord Asano bahwa sudah biasa memberi uang kepada Pemimpin Upacara atas jasa-jasanya. Kira khawatir sikap Lord Asano itu akan membawa pengaruh buruk. Gajinya sebagai pegawai
istana tidaklah besar dan dia tak ingin kehilangan satu pun keuntungan tambahan karena sikap keras kepala Lord Asano. Dia mencari untuk menying-kirkan daimyo ini. Sejak dulu dia selalu mendapat-kan keinginannya dari para bangsawan muda dan dia bertekad bahwa sekarang pun bukan penge-cualian.
Seorang pelayan datang dengan terengah-engah dan memberitahukan bahwa Shogun Tsunayoshi ingin bertemu. Kira cepat-cepat memakai jubah sambil mengumpat karena tidak bisa berpakaian dengan santai. Lalu, dengan tergesa-gesa dia keluar dan menyeberangi halaman menuju istana sambil memikirkan apa yang mengganggu Shogun di pagi hari seperti ini.
Selama dua puluh satu tahun memerintah, Tsunayoshi
memiliki semua alasan untuk merasa senang. Tidak ada pemberontakan, terutama karena para pendahulunya telah bersungguh-sungguh menyatu-kan negeri ini. Pertama dengan menaklukkan lalu menempatkan penguasa di lokasi yang strategis untuk saudara sedarah. Para pendahulunya juga telah membantu mengusir orang asing kecuali seke-lompok kecil pedagang Belanda di pulau yang ter-letak di ujung selatan. Pengaruh Kristen tetap hidup selama beberapa waktu setelah pengusiran. Tapi enam puluh tahun sebelumnya, di Shimabara, pem-
27
John Allyn
bunuhan besar-besaran atas mereka yang menyim-pang telah membuat negeri itu terbebas dari gang-guan kecil seperti itu.
Kini, setelah bertahun-tahun dalam kedamaian, kota-kota dan kesenian makin berkembang, dan para pedagang kian maju. Memang benar harga beras makin mahal karena kurangnya pasokan dari petani, namun secara keseluruhan Tsunayoshi bebas dari berbagai masalah kenegaraan yang berat.
Saat Kira masuk dengan napas lebih terengah-engah dari yang seharusnya, dia dapat melihat Tsunayoshi sedang gelisah. Kira membungkuk seren-dah mungkin lalu mengangkat kepala untuk melihat laki-laki kurus tinggi berusia lima puluh tahun yang sedang mondar-mandir di ruang penerimaan tamu.
Ternyata, yang menjadi perhatian Tsunayoshi bukan masalah kenegaraan yang berat, melainkan tentang kelompok tarinya. Tsunayoshi yang memilih dan melatih anak-anak itu dan berkeinginan agar mereka bisa tampil sebaik mungkin. Dia ingin Kira memanggil para penari ke Ruang Seribu Tikar sece-pat mungkin agar dapat berlatih lagi sebelum tamu kehormatan tiba.
"Kau tak tahu betapa berartinya hal ini bagiku," katanya pada Kira, sambil melambaikan lengan kimono. "Aku sudah bekerja keras agar penampilan ini berhasil - tarian ini harus sempurna!"
Kira menunduk. "Hamba mengerti Yang Mulia, tapi Tuanku tak perlu cemas. Upacara akan dilak-sanakan dengan lancar."
"Upacaranya, ya - tapi yang paling penting adalah tarian ini. Ini sesuatu yang baru, dan bila gagal, aku akan ditertawakan semua orang."
"Tak seorang pun akan melakukan itu," Kira menenangkan.
"Orang-orang akan tertawa di belakangku," kata Tsunayoshi. "Tapi sudahlah - semuanya sudah beres, kan? Tidak ada masalah, kuharap?"
"Masalah selalu ada, Yang Mulia, tapi semuanya dapat hamba atasi."
"Bagus," Shogun tersenyum. "Itulah yang ingin kudengar dari bawahanku. Kuharap yang lain juga sama efisiennya sepertimu."
Kira membalas senyum Shogun, menunjukkan giginya yang hitam. "Semua yang hamba tahu, hamba pelajari dari teladan Tuanku."
Dia membungkuk lalu beranjak pergi, tapi kemu-dian dia ragu-ragu dan berbalik dengan pura-pura enggan. "Ada satu daimyo muda yang bermasalah, namun hamba berharap dapat memperbaiki keka-kuannya sebelum membuat Tuanku malu."
"Maksudmu Asano? Aku perhatikan dia memang tidak setenang yang lain. Apakah kau ingin aku bicara padanya?"
"Tidak - hamba rasa itu tidak perlu. Dia akan baik-baik saja setelah hamba memberi pengertian."
"Yah - kalau begitu, aku serahkan padamu. Tapi bisakah kau panggil anak-anak itu segera?"
"Baik," jawab Kira sambil membungkuk, dan segera pergi. Dia tahu kalau Tsunayoshi bukanlah orang yang sabar.
Setelah memakai jubah upacara yang setiap bagian-nya diperiksa berulang kali, Lord Asano pergi ke kastil Shogun dengan menggunakan tandu. Kataoka, yang juga berpakaian lebih bagus dari biasanya, baru saja akan memerintahkan pada delapan pengusung
untuk mengangkat tandu ketika istri Lord Asano muncul di pintu sambil memanggil. Kataoka memerintahkan para pengusung menyingkir agar majikannya dapat berbicara dengan istrinya secara pribadi.
"Kumohon," katanya pada suaminya sambil ber-sandar ke jendela, "Berjanjilah bahwa kau akan menjaga sikap. Tunjukkan pada istana Edo bahwa kita juga tahu aturan. Mungkin - mungkin belum terlambat untuk meletakkan beberapa koin ke ta-ngan yang benar...."
Lord Asano menunjukkan sikap tidak sabar, tapi raut wajahnya melembut ketika melihat keprihatinan istrinya. Kata-kata Lord Asano bernada mema-rahi, namun sikapnya lembut.
"Dalam acara yang khidmat seperti ini, memberi lebih dari yang seharusnya pada Pemimpin Upacara adalah tindakan yang rendah. Aku menolak untuk merendahkan diriku seperti itu. Semua penasihat setuju..."
"Mereka setuju karena kau sudah menentukan sikap dan mereka tahu tak ada gunanya menentang-mu. Aku tahu bahwa jika kau tak bisa... Setidaknya berjanjilah padaku bahwa kau akan menerima pe-tunjuknya dengan baik dan tidak akan kehilangan kendali. Maukah kau?"
"Aku berjanji," jawab Lord Asano.
Sang istri mundur dan memberi senyum selamat jalan. Lord Asano memberi tanda pada Kataoka dan para pengusung tandu diberi isyarat untuk berjalan.
Ketika berbelok di sudut rumah, Kataoka melihat
Hara mengawasi kepergian mereka dan menang-kap peringatan yang terpancar dari matanya: "Jaga majikan kita." Kataoka mengangguk ketika mele-watinya.
Mereka melewati taman luas yang mengelilingi kediaman itu. Lord Asano merasa taman itu tetap indah dalam cahaya mentari pagi, meskipun pohon-pohonnya tak berdaun. Tak ada keistimewaan yang menonjol, hanya ketenangan alami yang dirancang
dengan sangat cermat oleh kakeknya. Kediaman itu digunakan ketika ada perang atau ancaman perang sehingga para daimyo diminta tinggal di ibukota untuk waktu yang lama. Kini, tentu saja, keadaan sudah berbeda. Seingat Lord Asano, belum pernah ada pemberontakan bahkan yang terkecil sekali pun. Terpikir olehnya bahwa hidup pasti lebih menarik di zaman kakeknya, ketika pedang digunakan untuk menyelesaikan perbedaan, bukan sekadar tanda kepangkatan.
Tandu itu dibawa dengan cepat melewati ger-bang. Kataoka mengikuti dari samping. Namun saat memasuki daerah yang hiruk-pikuk, para pengusung segera melambatkan langkah. Sebagian besar orang dan pedagang yang berlalu-lalang menyingkir untuk memberi jalan ketika melihat tandu berlambang daimyo. Sebagian lagi pura-pura tak melihat dan tetap sibuk dengan urusan mereka sampai akhirnya mereka terdorong ke tepi.
Lord Asano tidak pernah terbiasa dengan kum-pulan orang dari berbagai klas seperti di Edo ini. Bangsawan hingga orang rendahan berkumpul di pusat perdagangan ini untuk berbelanja pada pedagang
yang semakin kaya. Ada juga golongan masya-rakat lain yang hadir di sana, termasuk beberapa ronin atau samurai tak bertuan. Para petani juga datang ke kota untuk mencari pekerjaan. Jumlah mereka banyak dan mereka tidak mau mengemis. Sangat berbeda dengan para pengemis profesional yang dengan sombong berteriak minta sedekah. Lord Asano teringat pada pelayan yang melakukan kesa-lahan dengan api tadi pagi. Mungkin pelayan itu sudah dikeluarkan, tapi kelihatannya dia tak peduli. Orang kurang ajar seperti itu hanya perlu sedikit pelatihan agar dapat turun ke jalan untuk minta sedekah atau menjadi pendeta gadungan lalu mengemis
dengan alasan yang mulia.
Keramaian kian bertambah, namun ada suara lain yang mengatasi hiruk-pikuk itu. Nyanyian bagi orang mati. Kataoka mengarahkan para pengusung tandu minggir agar rombongan itu bisa lewat. Dari tandu, Lord Asano melihat bahwa rombongan itu hanya terdiri dari dua orang, keduanya pelayan, dan peti jenazah yang dipikul pada sebatang tongkat itu berukuran sangat kecil. Kataoka yang sedang berdiri kebingungan di samping tandu terkejut ketika Lord Asano berkata, "Bukan pertanda yang baik untuk memulai hari ini, benarkan Kataoka?"
Ketika menoleh dan melihat kalau tuannya tidak tersenyum, Kataoka merasa harus melakukan se-suatu. Orang yang memanggul peti jenazah itu sudah berhenti menyanyi dan ketika jarak mereka semakin dekat, salah satu dari mereka menggerutu tentang beratnya beban. Dengan putus asa, dan juga
karena terganggu dengan sikapnya, Kataoka me-manggil orang itu.
"Hei! Bebanmu ini tidak berat. Mengapa kau mengeluh? Tak bisakah kau tunjukkan rasa hormat pada yang sudah meninggal?"
Orang itu tertawa dan berteriak pada temannya. "Orang ini ingin tahu mengapa kita tidak menunjuk-kan rasa hormat pada penumpang kita. Haruskah aku tunjukkan padanya?"
"Tentu," jawab temannya. "Kenapa tidak?"
Mereka mendekati tandu lalu berhenti untuk meletakkan peti jenazah itu di jalan. Pelayan yang pertama kali bicara melangkah maju sambil terse-nyum lebar ke arah Kataoka, lalu membuka tutup peti. Dalam peti itu terbaring seekor anjing kecil, yang nyaris putus karena kecelakaan. Pelayan itu mengedipkan mata ke arah Kataoka ketika orang-orang mulai berdatangan. Semuanya ingin melihat apa yang menjadi pusat perhatian.
"Anjing ini tidak pernah diperlakukan dengan baik," kata pelayan itu kepada Kataoka, yang untuk sesaat seperti kehilangan kata-kata.
"Akan kau bawa ke mana dia?" akhirnya Kataoka bertanya.
"Tentu saja ke pemakaman. Ke mana lagi? Tak tahukah kau bahwa undang-undang mengatur bahwa anjing harus dimakamkan seperti manusia? Kami hanya sekadar melakukan perintah Shogun."
Dia menutup peti itu lalu kembali ke ujung pikulannya.
"Setidaknya kalian jangan mengeluh," Kataoka mengingatkan. "Tampaknya kalian tidak sadar be-tapa beruntungnya kalian karena Shogun yang agung lahir di tahun anjing." Dia berhenti sejenak untuk memberi kesan dramatis saat kedua pelayan itu mengangkat pikulan. "Coba pikir apa yang akan kalian pikul seandainya dia lahir di tahun kuda?"
Kedua orang itu tertawa keras, begitu pula kerumunan orang, dan Kataoka senang melihat Lord Asano juga tersenyum. Dia tertawa geli mengingat kecerdikannya, dan setelah itu memerintahkan para pengusung tandu berjalan lagi.
Di dalam tandu, Lord Asano memikirkan anjing yang mati itu. Baginya, hal itu merupakan tanda kekacauan yang terjadi di Edo, yaitu binatang harus diperlakukan sama seperti manusia. Dia tak dapat memahami tempat ini dan sekali lagi berharap untuk secepatnya keluar dari kota ini. Dia menghela napas, lalu membungkuk ke depan untuk melihat keramaian itu ketika tandu berjalan melewati gang lalu tiba di jalan lebar yang sejajar dengan saluran air kastil.
Air di saluran itu berada di bawah jalan dan
hampir tak terlihat. Dan yang terlihat jelas adalah tembok tinggi dari potongan batu granit besar di permukaan air, membentuk penghalang yang tak dapat dilewati di sekeliling kastil. Saat ini para pengusung berbelok dan berjalan di sepanjang parit, berlari menaiki bukit kecil ke arah gerbang masuk yang melindungi jembatan yang membentang tinggi di atas air yang tenang.
Di gerbang ada penjaga bersenjata tombak dan kapak yang mengawasi ketika tandu mendekat. Para penjaga bersiaga ketika Kataoka melaporkan maksud kedatangan mereka. Lalu, sambil melambai mereka menyeberangi jembatan menuju halaman kastil. Saat masuk, di sisi kanan terdapat bangunan yang merupakan markas penjaga. Orang-orang bersenjata itu kembali memeriksa tandu dan sekali lagi Kataoka harus melewati pemeriksaan.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah teratur, sesuai peraturan keamanan, hingga di ba-gian luar kastil di mana kaum bangsawan tinggal dengan dikelilingi kediaman pejabat dengan pangkat yang lebih rendah. Di tempat ini hanya terlihat sedikit kegiatan karena sebagian besar bangsawan sedang di dalam kastil untuk menyiapkan acara hari itu.
Melewati daerah ini, di dataran yang tinggi, ada kastil dan kediaman resmi Shogun. Kastil itu juga dikelilingi parit dan tembok granit tebal seperti tembok yang di bawah. Di atas parit itu terdapat jembatan tarik. Dengan perlahan rombongan Lord Asano berjalan menyeberangi jembatan itu. Langkah mereka ditentukan oleh peraturan istana yang tidak dapat diubah.
Di balik tembok, di setiap sudut ada benteng dari tanah yang menunjang pos-pos jaga yang tinggi-nya beberapa tingkat. Di atas kastil terdapat menara putih yang lebih tinggi dari bangunan lain. Ketika melihat menara ini, Lord Asano menatap penuh arti ke arah Kataoka. Menara itu membuat mereka ter-ingat pada daerah mereka. Bangunannya terbuat dari batu dengan jendela kecil berkusen putih serta genteng tersusun rapi, di mana pada setiap ujung-nya ada hiasan ikan dari perunggu dengan ekor yang mengarah ke atas. Walaupun kastil di Ako tidak sebesar atau dihiasi seperti ini, tapi hiasan di menara itu sama dan hal itu menggugah kenangan mereka.
Di pintu masuk kastil, tandu berhenti dan Lord Asano keluar. Kakinya langsung menginjak bangku kayu rendah sehingga pengusungnya tak perlu me-nuntunnya keluar. Ketika melihat dirinya sendiri yang berpakaian warna hijau terang, wajahnya me-nunjukkan rasa kurang suka. Pakaian seperti ini merupakan salah satu masalah terbesar bagi Lord Asano. Selain topi menjengkelkan yang dikenakan miring ke satu sisi dan tampak akan jatuh bila memiringkan kepala, dia juga harus memakai jaket kamishimo yang memiliki bahu lebar sehingga mem-batasi gerakan tangannya. Namun yang paling parah adalah celana tidak praktis yang sedang dirapikan oleh Kataoka sebelum Lord Asano memasuki kastil.
Kaki celana yang sangat lebar itu seharusnya menjuntai di belakang pemakainya untuk memberi kesan estetis. Untuk itu, pemakainya harus berjalan hati-hati dan Lord Asano, yang tidak sabaran, merasa terkurung tanpa berdaya. Dia ingin sekali menying-kirkan celana itu dan melangkah cepat seperti ke-biasannya, tidak berjalan seperti perempuan yang memakai kimono ketat. Ketika selesai merapikan, Kataoka lalu membungkuk dan mengundurkan diri. Dia akan menunggu di dekat pos jaga bersama para pengusung hingga upacara selesai. Tentu saja dia tak diperkenankan masuk ke dalam kastil. Tak seorang pun yang berpangkat lebih rendah dari daimyo yang diundang ke pesta tahunan yang diadakan khusus bagi para utusan Shogun.
Lord Asano menguatkan diri dan mulai berjalan ke pintu: mengangkat kaki, menyentaknya sedikit ke depan, lalu melangkah. Meskipun tidak jauh, tapi dia merasa seperti tak berujung. Di luar hanya ada dua penjaga yang mengawasi, namun Lord Asano
38
Kisah 47 Ronin
berjalan dengan sangat hati-hati di hadapan mereka seperti juga yang akan dilakukannya di hadapan Shogun. Dia tahu kalau Kira akan mendorongnya tanpa ampun kalau ia melakukan kesalahan, dan ia telah bertekad untuk menunjukkan pada orang-orang Edo bahwa samurai dari daerah juga dapat berperan seperti mereka.
Ketika seorang penjaga membukakan pintu, dia masuk ke ruang tunggu di luar Ruang Seribu Tikar yang sangat luas di mana upacara resmi akan dilak-sanakan. Di ruangan itu dia berhenti sebentar untuk membuat matanya terbiasa di ruang yang redup.
Ruang tunggu itu luas dengan langit-langit yang tinggi. Tiang-tiang di ruang itu disepuh dan dihiasi ukiran. Saat melangkah di tikar yang berhiaskan emas, Lord Asano memerhatikan bahwa, walaupun dia tiba awal, ternyata sudah ada beberapa tamu yang datang. Semuanya memakai pakaian istana sama seperti dirinya, dengan perbedaan hanya pada hiasan untuk menunjukkan tingkatan. Satu orang yang pakaiannya sama kecuali warnanya yang coklat keemasan, menatapnya dan dia pun menghampiri-nya.
Lord Date dari Yoshida, laki-laki bertubuh atletis berusia tiga puluhan, adalah rekan Lord Asano dalam kepangkatan dan tugas. Mereka berdua ter-pilih menjadi panitia untuk menyambut utusan Kaisar dari Kyoto. Acara tahunan ini bertujuan untuk menunjukkan hubungan antara Kaisar, yang menjadi penguasa tanpa kekuasaan, dengan Shogun yang pendahulunya telah mempersatukan wilayah itu dengan kekuatan militer dan merupakan pemimpin pemerintahan yang sesungguhnya.
Baik Lord Asano maupun Lord Date sudah beru-saha menolak kehormatan itu dengan alasan tidak terbiasa dengan aturan kerajaan, tapi tidak berhasil. Mereka pun berada di bawah bimbingan Kira. Tapi Date hanya punya sedikit masalah dengan Kira, sementara Lord Asano sering menjengkelkan karena 'kebiasaan daerah'-nya. Kini, di awal hari terakhir, Lord Date" terlihat tenang dan puas sementara te-mannya tampak cemas.
"Selamat pagi," kata Lord Asano sambil me-nunduk sekadarnya.
"Selamat pagi, Lord Asano," balas Date sambil tersenyum. "Anda datang awal, kan?"
"Kau juga," balas Lord Asano. "Mungkin kau lebih gelisah dari kelihatannya."
Date tertawa. "Kau yang gelisah. Setiap orang mengira kau hendak pergi berperang."
"Kuharap memang ada perang," kata Lord Asano tersinggung. "Aku anak daerah yang tak terbiasa bergaul dengan kalangan istana seperti mereka. Orang seperti Kira," dan dia menyebut nama itu
dengan nada benci, "pangkatnya lebih rendah, tapi kita harus melompat berdiri begitu dia bicara." Dia menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu mengapa kau kesal pada Kira," kata Date dengan senyum samar. "Dia memerlaku-kanku dengan hormat, walau aku sama cerobohnya sepertimu dalam hal upacara-upacara."
Lord Asano menatapnya. "Jangan mengira aku tidak tahu rahasiamu, Lord Date. Kau membayar-nya..."
"Aku tidak melakukan hal seperti itu!" Date menyela dengan marah.
"Berarti penasihatmu yang melakukannya un-tukmu dan itu pun tak patut dipuji - karena kau tidak tahu apa yang diperbuat bawahanmu!"
Wajah Date memerah. Saat dia hendak mem-balas ucapan Lord Asano ketika pintu sorong ter-buka dan Lord Kira berjalan dengan langkah berat. Dia tersenyum dengan rendah hati pada rombongan tamu, memperlihatkan giginya yang dihitamkan. Lord Asano gemetar karena marah. Menurutnya, Kira adalah contoh dari semua yang salah dengan istana. Korupsi, sombong, dan menganggap diri penting -jauh dari nilai samurai.
Setelah membungkuk hormat pada para tamu, Kira melirik Lord Asano untuk melihat tanda-tanda perubahan sikap sang daimyo. Dia berpikir, pasti ada
cara untuk mengubah bangsawan tolol ini. Mungkin hinaan yang lebih keras akan berhasil untuk orang muda yang sangat percaya diri ini. Setidaknya perlu dicoba sekali lagi dan inilah saat yang paling tepat. Dia merasa aman; menghunus pedang di dalam kastil, apa pun alasannya, adalah pelanggaran berat.
Ketika Kira menghampiri, Lord Asano langsung membalikkan badan dengan cara yang hanya dapat diterjemahkan sebagai sikap menghina. Pemimpin Upacara yang berpakaian hitam itu berhenti karena kaget, lalu dengan marah mengubah arahnya mende-kati Lord Dati.
Tindakan yang tidak sopan itu adalah puncak-nya dan Kira, yang darahnya mendidih, sadar bahwa saat ini tak ada gunanya terus berusaha mengum-pulkan uang suapnya. Dia memutuskan bahwa Lord Asano harus membayar atas kekasarannya itu.
Sementara Kira terus memberi petunjuk pada Lord Date, Lord Asano merasa sangat tertekan. Seandainya Kira mengabaikannya sekarang, ia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan selama upacara. Dia sempat panik ketika membayangkan aib keluarganya bila ia melanggar etika. Kini dia harus bersikap baik pada Kira, meskipun dia mem-bencinya.
Dia berusaha menyusun kata-kata untuk me-minta maaf ketika pintu terbuka. Detak jantungnya
42
Kisah 47 Ronin
makin kencang ketika membayangkan kalau orang yang datang adalah utusan Kaisar, namun ia lega karena temyata yang muncul hanyalah seorang pen-damping ibunda Shogun. Matanya besar dan badan-nya gemuk. Namanya Kajikawa, orang yang biasanya takkan diperhatikan Lord Asano, tapi dia tak mem-perlihatkan perasaannya yang sebenarnya. Saat Kajikawa memandang dengan malu ke sekeliling ruangan, Lord Asano tersenyum.
Senyumannya berhasil. Kajiwaka menghampiri lalu membungkuk hormat. Kemudian dia mengang-kat kepala sambil tersenyum....
"Lord Asano," katanya dengan kalimat yang kurang jelas, "hamba dengar ada perubahan acara dan hamba ingin tahu perubahan itu untuk diberi-tahukan kepada ibunda Shogun. Bila tidak mere-potkan...." mengakhiri kalimatnya dengan ketidak-pastian.
Tanpa sadar Lord Asano melihat ke Kira sebagai satu-satunya orang yang bisa memberi jawaban dan dia merasa malu ketika tahu Kira sedang melihat ke arahnya sambil tersenyum. Sudah pasti Kira juga mendengar pembicaraan mereka.
"Jangan membuang-buang waktu dengan ber-tanya pada orang tolol itu," kata Kira dengan suara keras dan berkuasa. "Jika pertanyaannya soal upacara,
tanyakan padaku atau Lord Date atau salah
satu pelayan - mereka justru lebih tahu dibanding Lord Asano!"
Wajah Kajikawa memerah dan matanya terbe-lalak ketika membungkuk dengan canggung lalu berdiri
dengan ragu-ragu. Lord Asano berdiri kaku seakan dia telah berubah menjadi patung. Kajikawa langsung melangkah keluar menuju ruang perte-muan. Tidak ingin mempermalukan Lord Asano dengan bertanya orang lain di ruang itu, dia memu-tuskan untuk bertanya pada salah satu petugas istana. Ketika membuka pintu, Kajikawa melihat Kira berjalan dengan anggun untuk menghampiri Lord Asano dan mengatakan sesuatu. Dia tak yakin apa yang diucapkan, namun sepertinya Kira mengatakan
sesuatu tentang istri Lord Asano.
Lord Asano juga hampir tidak dapat memercayai apa yang didengarnya.
"Tahukah kau bahwa sebenarnya kau bisa keluar dari semua kesulitan ini?" kata Kira menyindir. "Jika uang memang sangat berarti bagimu, ada cara lain untuk memuaskanku. Aku dengar istrimu cantik..."
Lord Asano tak dapat menahan diri lagi. Kema-rahannya sudah sangat menyesak dada, dia meng-genggam erat gagang pedang. Kira pun langsung memegang pedang, walaupun dia tak bermaksud menariknya. Ini kesalahan fatal. Lord Asano melihat gerakannya sebagai jawaban atas tantangannya dan
dia pun menghunus pedangnya yang mengkilap lalu menebas dengan kemarahan yang meluap. Kira, yang tertebas bahunya, terhuyung dan jatuh. Lord Asano mengangkat tangan untuk menyerang lagi, tapi Lord Date dan orang-orang segera menahannya. Suasana menjadi hening. Keheningan pecah setelah Kajikawa berlari ke ruang dalam.
Lord Asano memandang tubuh Kira yang ter-geletak diam dengan rasa benci, juga kepada mereka yang mengambil pedangnya. Dia berdiri tanpa ber-gerak, matanya berkaca-kaca. Pintu sorong terbuka dan ternyata Shogun Tsunayoshi yang masuk. Di belakangnya ada sekelompok anak laki-laki dengan kostum menari, semuanya diam tak bergerak.
Tsunayoshi, yang tampak lebih feminin dalam kostum menarinya, tidak siap melihat pemandangan yang menyambutnya. Napasnya memburu, lalu agak terhuyung-huyung seperti hendak jatuh. Beberapa orang yang hadir dapat menduga apa yang ada di benaknya.
Tujuh belas tahun lalu, peristiwa serupa pernah terjadi di ruang ini, dan selama bertahun-tahun Tsunayoshi dihantui oleh peristiwa itu. Pada waktu itu perdana menterinya yang menjadi korban, di-bunuh keluarga istana yang marah karena perdana menteri itu mengambil alih begitu banyak kekua-lSaan yang seharusnya dipegang Shogun. Menurut
desas-desus, Tsunayoshi yang bertanggung jawab atas penyerangan itu. Pembunuhnya dihukum mati saat itu juga oleh sekelompok penguasa, dan latar belakang dari tindakannya masih menjadi rahasia.
Sekarang, seluruh kejadian itu seperti dimainkan kembali di hadapannya dan tampak jelas kalau dia sangat terkejut. Kemarahan melanda dirinya dan wajahnya berubah merah saat mendekati tubuh Kira yang tak bergerak. Dengan rasa jijik, Shogun meme-rintahkan dua orang pelayan membawa Pemimpin Upacara yang tak berdaya ke ruang tunggu, lalu menoleh ke arah yang lain.
"Apa yang terjadi?" tanyanya ingin tahu, tapi dia tak langsung mendapat jawaban. "Kau, di sana," katanya menunjuk ke arah Lord Date, "ceritakan apa yang terjadi."
Lord Date melepas tangan Lord Asano dan mem-bungkuk, sambil menelan ludah dengan susah. Dia berdiri tegak dan menjelaskan dengan singkat dan resmi, seolah sedang membuat laporan pada atasan-nya di medan perang.
"Tampaknya Lord Asano tersinggung atas ucapan Lord Kira. Kami melihat dia sangat terkejut. Kami melihatnya menarik pedang dan menebas Lord Kira. Seolah ada kekuatan yang memaksanya...."
"Dia menarik pedang dan menebas Kira?" sela
Shogun. "Adakah yang tahu apa yang diucapkan Kira sehingga dia berbuat seperti itu?"
Tak ada yang menjawab, termasuk Kajikawa yang mengintip melalui pintu.
"Baiklah, kalau begitu, bawa dia kemari," kata Tsunayoshi dengan dingin. Dia menoleh ke arah Lord Asano. "Kau sudah tidak menghormati sopan santun di istana ini?"
"Maaf," kata Lord Asano sambil berlutut dan menunduk hingga menyentuh lantai. "Hamba tidak punya alasan."
"Ada aturan untuk setiap kejadian," Tsunayoshi melanjutkan, "yang dibuat dengan sangat hati-hati agar dipatuhi setiap orang. Aku tidak membuat pengecualian dalam hal ini - bahkan tidak untuk keluargaku. Ketidaktahuan soal peraturan itu dapat dipahami, tapi aku yakin kau sudah lama menjadi daimyo, tak dapat mengatakan bahwa kau tidak tahu."
"Tidak... tidak," gumam Lord Asano, yang me-rasa yakin bahwa dia sedang bermimpi buruk dan bahwa dia akan segera terbangun.
Tsunayoshi melihat pada yang lainnya. "Tindak kejahatannya sudah jelas. Begitu juga hukumannya. Awasi orang ini sementara aku berunding dengan penasihatku. Untuk sementara upacara terpaksa ditunda."
Dia menunjukkan raut wajah jijik saat melihat noda darah di lantai, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan melalui pintu sorong menuju ruang pertemuan. Seorang pegawai istana yang muncul di ambang pintu langsung mundur untuk memberi jalan.
"Sayang sekali," kata Shogun pada pegawai istana itu. "Semua rencana kita kacau hanya karena seorang samurai yang tidak pernah belajar cara ber-sikap di kastil. Mungkin pertunjukan tari harus dibatalkan."
Mereka semua lalu pergi dan Lord Asano di-tinggal dengan para penangkapnya. Dia tetap ber-lutut dan menatap lantai sementara yang hadir di ruang itu mengawasinya dengan diam. Wajahnya tetap keras seperti batu, namun perutnya bergejolak sehingga dia berpikir jernih. Dia meneguhkan diri, berusaha tidak menunjukkan kelemahan.
Waktu berlalu dalam keheningan sebelum akhir-nya terdengar langkah kaki. Lord Tamura, daimyo Ichinoseki, melangkah masuk bersama serombongan samurai lalu berdiri dengan ragu ketika melihat posisi Lord Asano yang kaku. Lord Tamura adalah mantan kepala keamanan, mungkin itu sebabnya dia dipanggil Tsunayoshi, tapi dalam hal ini dia tak tahu harus berbuat apa. Lebih mudah memberi perintah bila berurusan dengan pencuri dan peram-
pok, tapi untuk menahan sesama daimyo sangatlah berbeda. Dia mendekat dengan enggan dan me-nyentuh bahu Lord Asano.
"Atas perintah Shogun," katanya, dan Lord Asano
berdiri mengikutinya keluar. Ada tandu yang menantinya di luar dengan selusin samurai serta lebih dari tiga puluh pelayan, namun Lord Asano tidak melihat Kataoka. Saat hendak masuk ke dalam tandu, dia mendengar Tamura mengucapkan sesuatu sambil menyerahkan pakaian pelayan. Lord Asano begitu terkejut dengan kelancangan ini tapi kemu-dian dia sadar kalau ini demi kebaikan dirinya. Dengan memakai pakaian ini, dia takkan dikenali ketika melewati jalan-jalan di kota Edo dan takkan dipermalukan di depan umum. Dengan raut wajah jijik dia memakai pakaian itu lalu masuk ke tandu, yang kemudian ditutup Lord Tamura dengan jaring lalu diikat dengan tali sehingga tak ada kesempatan bagi tahanannya untuk melarikan diri. Setelah itu dia memberi perintah dan rombongan itu pun berangkat ke kediaman Lord Tamura. Ketika ber-belok di sudut dekat pos jaga, mereka melewati Kataoka yang tidak tahu kalau Lord Asano lewat di depannya sebagai tahanan.
Hari menjelang siang saat Kataoka mulai cemas. Tampaknya upacara telah selesai karena banyak tamu yang sudah pulang, tapi majikannya masih
belum terlihat. Ketika melihat tandu Lord Date, Kataoka segera menghampiri.
Lord Date masih terkejut dengan peristiwa yang terjadi pagi tadi dan selama beberapa saat dia tak mengerti pertanyaan yang ajukan Kataoka dengan sopan. Dia hanya tahu kalau Lord Asano telah dibawa pergi Lord Tamura. Dia sadar kalau Kataoka tidak tahu penyerangan atas Kira, dan berusaha mencari cara untuk memberitahukan kejadian itu.
"Majikanmu ada di kediaman Lord Tamura. Aku sarankan kau segera ke sana."
"Apa yang terjadi?" tanya Kataoka cemas.
"Kecelakaan... Lord Kira dan majikanmu ter-libat...."
Ada keheningan sementara Kataoka berusaha memahami berita itu. Ketika mengerti apa yang terjadi, ulu hatinya terasa sakit dan mulutnya terasa kering.
"Jadi tandu itu tidak perlu menunggu?" katanya gagap.
Lord Date" menggelengkan kepala, lalu berhenti sebentar untuk melihat apakah Kataoka mampu bertindak benar ia sebelum melanjutkan perjalanan. Setidaknya, hanya itu yang dapat dia lakukan untuk temannya.
Sambil membungkuk sebagai ucapan terima kasih, Kataoka segera pergi. Dia tak berani melang-
gar larangan berlari di halaman kastil, namun dia berhasil mencapai tandu dalam waktu singkat. Dia segera memberi pesan singkat pada pembawa tandu untuk disampaikan kepada Hara. Para pengusung tandu dapat dipercaya, tapi tetap saja mereka dari kalangan rendah dan tak perlu tahu semuanya. Dia hanya memberi pesan bahwa Lord Asano memu-tuskan untuk mengunjungi Lord Tamura dengan kereta lain. Dia meminta. mereka secepatnya me-nyampaikan pesan itu kepada Hara untuk segera menyusul ke kediaman Tamura. Kemudian dia ber-jalan dengan cepat di samping mereka saat keluar dari halaman kastil. Mereka kembali melewati jem-batan di atas parit dan menuju kota. Kini dia dapat berlari secepat mungkin. Bagaimana hal ini bisa terjadi,
pikirannya masih kacau, bagaimana hal seperti ini bisa terjadi atas majikan yang dicintainya?
Di kediaman Tamura, Lord Asano diperlakukan dengan sopan dan dipinjami jubah sederhana untuk mengganti kamishino dan celana upacara. Mereka yang ada di sana tak mengajak bicara karena tahu statusnya yang belum jelas. Lord Asano ditempat-kan di ruang kecil berdinding putih serta diberi kertas dan kuas untuk menulis surat kepada istri-nya. Setelah berhasil menenangkan diri, dia lalu menulis secara singkat tentang apa yang terjadi. Tapi dia terganggu oleh kedatangan satu orang
dengan dua pengawal di ruang sebelah. Orang itu membawa keputusan resmi Shogun. Lord Asano mendengar mereka berbisik pada Lord Tamura. Dari reaksi Lord Tamura, dia tahu bahwa hukumannya sangat berat dan itu berarti satu hal - hukuman mati! Bisikan mereka selanjutnya tidak terlalu berarti baginya: "...para penasihat menentang... Tsunayoshi tak mau mengubah... beberapa tahun lalu ada pejabat yang diserang dengan cara serupa... contoh harus diterapkan..."
Tak lama kemudian Lord Tamura masuk. "Shogun yang murah hati telah memutuskan bahwa hukuman akan dilakukan dengan cepat sehingga sudah sepan-tasnya Anda berterima kasih. Berdasarkan pangkat, Anda juga diberi kemudahan untuk mati dengan cara terhormat," katanya. Lord Asano tetap diam, dan Lord Tamura menganggap itu sebagai tanda setuju. Kemudian dia menambahkan: "Seluruh wi-layah Anda akan disita dan ditempatkan dalam perlindungan Shogun hingga ada pemberitahuan selanjutnya."
Lord Asano seperti mendengar lolongan anjing dan perasaan tak berdaya seperti dalam mimpinya. Tapi dia hanya menatap hampa ke dinding di depan-nya sampai Lord Tamura membungkuk dan mengun-durkan diri. Setelah beberapa saat, Lord Asano menulis lagi tapi dia masih belum selesai ketika
Lord Tamura datang bersama utusan Shogun. Mereka menunggu sampai dia selesai menulis surat. Ketika tinta mengering, Lord Asano lalu berhenti. Petugas itu maju dan membantunya berdiri. Dengan penuh rasa percaya diri, Lord Asano mengibaskan tangan orang itu dan berdiri sendiri. Dia sedang berjalan mengikuti Lord Tamura menuju halaman ketika ada keributan di jalan masuk. Kataoka tiba dan dengan napas terengah-engah dia meminta izin untuk ber-temu majikannya. Lord Tamura berunding sebentar dengan utusan Shogun dan izin diberikan. Kataoka terlihat ragu bicara di hadapan orang-orang yang hadir, namun dia tak dapat menguasai perasaannya dan sungguh-sungguh minta maaf karena tak tahu peristiwa di dalam kastil. Lord Asano mengangkat tangan.
"Aku senang melihatmu, Gengoemon," katanya, memanggil Kataoka dengan nama kecilnya. "Wajah-mu adalah wajah ramah pertama yang kujumpai sejak pagi."
Air mata Kataoka menggenang di pelupuk mata-nya, tapi Lord Asano pura-pura tidak melihat. Dia serahkan surat itu pada Kataoka.
"Ini saatnya kita berpisah. Sampaikan kepada... kepada istriku." Dia berhenti sejenak dan matanya terlihat menerawang. "Katakan pada semua orang...
katakan pada mereka... Oishi pasti tahu apa yang harus dilakukan."
Di taman, di hadapan seluruh pasukan samurai Lord Tamura, tiga tikar telah diletakkan di tanah dan ditutupi selembar permadani putih. Hari mulai gelap dan lampion sudah dinyalakan di setiap sudut panggung yang didirikan seadanya. Lord Asano dibimbing untuk duduk di tengah permadani di depan meja kecil. Di atas meja itu ada pedang ber-ukuran dua puluh tiga sentimeter. Lord Asano meng-ambil pedang itu, memerhatikannya dengan sak-sama dan melihat bahwa pedang itu adalah warisan keluarga Tamura. Dia tersenyum sekilas pada Lord Tamura untuk menyampaikan rasa terima kasih lalu mendengarkan dengan tenang saat utusan itu mem-bacakan tentang kejahatan yang telah dilakukan serta keputusan yang sudah diambil. Sekali lagi Lord Asano seperti mendengar anjing-anjing menggong-gong. Dia lebih merasakan suara gonggongan itu, bukan mendengarnya, ketika pembacaan selesai. Dia tahu apa yang harus dilakukan dan dia yakin dapat melakukannya dengan bermartabat. Setidaknya, tak seorang pun akan mengatakan bahwa dia tidak tahu aturan.
Dia menggenggam pedang dengan dua tangan dan menggumamkan doa singkat ketika mengarah-kan ujung pedang di bagian bawah perut sebelah
kiri. Dia menusuk pedang itu ke perut lalu merobek-nya, setelah itu semua suara berhenti ketika seorang pengawas maju untuk memenggal kepalanya dengan satu tebasan pedang panjang.*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar