Wellcome @ book reviews

enjoy it while we serve u with our pleasure

5.13.2009

ANGEL & DEMON

Prolog
LEONARDO VETRA, seorang ahli fisika, mencium aroma daging terbakar. Dia tahu yang
terbakar itu adalah tubuhnya sendiri. Dengan penuh ketakutan dia menatap sosok hitam yang
membungkuk kepadanya. ”Apa maumu?”
”La chiave,” jawabnya dengan suara parau. ”Kata kuncinya.”
”Tetapi ... aku tidak—”
Penyusup itu menekankan benda itu lebih kuat sehingga benda panas itu masuk lebih dalam lagi
ke dada Vetra. Terdengar suara mendesis yang keluar dari daging yang terpanggang.
Vetra menjerit kesakitan. ”Tidak ada kata kuncinya!” Dia merasa dirinya sebentar lagi hampir
pingsan.
Mata orang itu melotot, ”Ne avevo paum. Itu yang kutakutkan.”
Vetra berusaha untuk tetap sadar, namun kegelapan telah menyelimutinya. Satu-satunya hal yang
membuatnya senang adalah dia tahu orang yang menyerangnya itu tidak akan memperoleh apa
yang dicarinya. Sesaat kemudian, sosok itu mengeluarkan sebilah pisau dan mendekatkannya ke
wajah Vetra. Pisau itu terayun dengan cermat dan menyayat seperti pisau bedah.
”Demi kasih Tuhan!” jerit Vetra. Sayang, sudah terlambat.[]
1
TINGGI DI ATAS puncak anak tangga Great Pyramid Giza, seorang perempuan muda tertawa
dan berseru ke bawah kepada seorang lelaki. ”Robert, cepatlah! Aku tahu aku semestinya menikah
dengan lelaki yang lebih muda!” Senyum perempuan itu begitu memesona.
Robert berjuang untuk mengimbanginya, tapi tungkai kakinya seperti terpaku. ”Tunggu,”
pintanya. ”Kumohon ....”
Ketika lelaki itu berusaha mendaki, pandangannya mulai mengabur. Dia seperti mendengar suarasuara
di telinganya. Aku harus menangkap perempuan itu! Tapi ketika dia mendongak lagi,
perempuan itu telah menghilang. Di tempat di mana perempuan itu sebelumnya berada, berdiri
seorang lelaki tua dengan gigi yang berwarna kecokelatan. Lelaki tua itu menatap ke bawah, ke
arahnya, dan tersenyum penuh kesedihan. Kemudian dia menjerit keras penuh penderitaan
sehingga menggema ke seluruh padang pasir.
Robert Langdon tersentak bangun dari mimpi buruknya. Telepon di samping tempat tidurnya
berdering. Dengan linglung dia mengangkatnya.
”Halo?”
Aku mencari Robert Langdon,” suara seorang lelaki berkata.
Langdon duduk tegak di atas tempat tidurnya dan mencoba menjernihkan pikirannya. ”Ini Robert
Langdon.” Dia menyipitkan matanya ketika menatap jam digitalnya. Pukul 5.18 pagi.
”Aku harus bertemu denganmu segera.”
”Siapa ini?”
”Namaku Maximilian Kohler. Aku seorang ahli fisika partikel.”
”Apa?” Pikiran Langdon masih kacau. ”Kamu yakin saya Langdon yang kamu cari?”
”Kamu dosen ikonologi religi di Harvard University. Kamu menulis tiga buku tentang simbologi
dan—”
”Kamu tahu jam berapa sekarang?”
”Maafkan aku. Tapi aku mempunyai sesuatu yang harus kamu lihat. Aku tidak dapat
membicarakannya lewat telepon.”
Langdon mendesah maklum. Ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Salah satu risiko menjadi
penulis buku-buku tentang simbologi religi adalah telepon dari para penganut sebuah agama yang
fanatik yang ingin agar ia membenarkan keyakinan mereka kalau mereka baru saja menerima
pertanda dari Tuhan. Bulan lalu, seorang penari telanjang dari Oklahoma menjanjikan pelayanan
seks habis-habisan kalau Langdon mau terbang ke rumahnya untuk memeriksa keaslian dari
bentuk salib yang secara ajaib muncul di atas sprei tempat tidurnya. Kain Kafan dari Tulsa, begitu
Langdon menyebutnya.
”Bagaimana kamu mendapatkan nomor teleponku?” tanya Langdon mencoba bersikap sopan
walau orang itu meneleponnya pada waktu yang sungguh tidak sopan.
”Dari internet. Dari situs bukumu.”
Langdon mengerutkan keningnya. Dia sangat yakin situs bukunya tidak mencantumkan nomor
teleponnya. Lelaki itu pasti berbohong.
”Aku harus bertemu denganmu,” desak orang itu. ”Aku akan membayarmu dengan harga yang
pantas.”
Sekarang Langdon mulai kesal. ”Maafkan aku, tetapi aku betulbetul—”
”Jika kamu segera berangkat, kamu akan tiba di sini pada—”
”Aku tidak mau pergi ke mana-mana! Ini jam lima pagi!” Langdon menutup teleponnya dan
menjatuhkan dirinya lagi di atas tempat tidur. Dia menutup matanya dan mencoba tidur kembali.
Tidak ada gunanya. Mimpi itu masih membayanginya. Dengan enggan, dia mengenakan jubah
kamarnya dan turun ke lantai bawah.
Robert Langdon berjalan mondar-mandir dengan bertelanjang kaki di rumah bergaya zaman
Victoria miliknya yang lengang di Massachusetts dan menikmati ramuan ”sulit tidur” kesukaannya
— secangkir besar Nestles Quik panas. Sinar rembulan di bulan April tampak menembus masuk
dari jendela rumahnya yang menjorok ke luar dan memberikan sentuhan tersendiri pada
permadani oriental yang terhampar di lantai. Rekan-rekan Langdon sering mengoloknya dengan
mengatakan rumahnya lebih mirip sebuah museum antropologi daripada sebuah rumah. Rak
bukunya dipenuhi oleh berbagai artifak religius dari seluruh penjuru dunia, seperti ekuaba dari
Ghana, salib emas dari Spanyol, patung berhala dari Aegean Selatan, dan bahkan tenunan langka
bernama boccus dari Kalimantan yang merupakan simbol keabadian usia muda milik seorang
ksatria.
Ketika Langdon duduk di atas peti kuningan Maharesi-nya dan menikmati minuman cokelat
hangat kesukaannya, kaca jendela yang menjorok itu memantulkan bayangan dirinya. Bayangan
itu tampak berubah dan pucat ... seperti hantu. Hantu tua renta, katanya seperti mengejek dirinya
sendiri dengan berpikir jiwa mudanya telah berlalu meninggalkannya.
Walaupun tidak terlalu tampan menurut ukuran biasa, Langdon yang berusia empat puluh tahun
ini memiliki apa yang disebut rekan kerja perempuannya sebagai daya tarik ”seorang terpelajar”—
rambut cokelat tebal yang mulai tampak beruban, mata biru yang tajam menyelidik, suara yang
berat sekaligus menawan, dan senyuman menggoda milik seorang atlet kampus. Sebagai man tan
anggota regu selam di sekolah lanjutan dan perguruan tinggi, Langdon masih memiliki tubuh yang gagah setinggi 180 sentimeter dan tetap
terjaga berkat latihan renang yang dilakukannya setiap hari sebanyak lima puluh putaran di kolam
renang kampus.
Teman-teman Langdon selalu menganggapnya sebagai orang yang agak membingungkan—
seseorang yang terperangkap di antara abad yang satu dengan abad yang lainnya. Pada akhir
pekan, Langdon sering terlihat mengenakan jeans, duduk-duduk santai di alun-alun kampus sambil
berdiskusi tentang grafik komputer atau sejarah agama dengan para mahasiswa; di lain waktu dia
terlihat mengenakan jas wol rancangan Harris, dan rompi dari wol halus seperti yang terlihat
dalam berbagai foto di halaman majalah seni ternama ketika hadir dalam pembukaan museum
untuk memberikan pidato.
Walau dianggap sebagai dosen yang keras dan sangat disiplin, Langdon juga dipuji sebagai orang
yang suka bergembira. Dia sangat menyukai kegiatan rekreasi sehingga diterima di lingkungan
mahasiswanya dengan baik. Julukannya di kampus adalah ”si Lumba-lumba” karena sifatnya yang
ramah dan karena kemampuannya yang legendaris dalam menyelam dan berenang ketika
bertanding dalam pertandingan polo air.
Ketika Langdon duduk sendirian dan menatap ke dalam kegelapan, kesenyapan rumahnya terusik
lagi. Kali ini oleh suara dering mesin faksnya. Merasa terlalu lelah untuk diganggu, Langdon
hanya berusaha untuk tertawa sendiri.
Umat Tuhan ini, katanya dalam hati. Sudah dua ribu tahun menunggu Mesiah untuk
menyelamatkan mereka, masih saja keras kepala seperti batu.
Dengan letih dia mengembalikan cangkir besarnya ke dapur dan berjalan perlahan menuju ruang
kerjanya yang memiliki dinding yang berlapis kayu ek. Lembaran faks yang baru tiba itu
tergeletak di atas meja. Sambil mendesah, dia memungut kertas itu dan mengamatinya.
Tiba-tiba dia merasa mual.
18 I DAN BROWN
Gambar yang tertera pada lembaran itu adalah gambar sesosok mayat manusia. Mayat itu
ditelanjangi, dan kepalanya diputar hingga sepenuhnya mengarah ke belakang. Ada luka bakar
yang parah di dada mayat itu. Lelaki itu diberi cap ... hanya satu kata yang tertera di sana.
Langdon mengenalinya dengan baik. Sangat baik. Dia menatap huruf ornamen itu dengan rasa
tidak percaya.
”Illuminati,” dia tergagap, jantungnya berdebar keras. Tidak
mungkin ....
Dengan gerak lambat, karena takut akan apa yang bakal dia lihat, Langdon memutar kertas itu
sebesar 180 derajat. Lalu dia menatap huruf yang terbalik itu dan membacanya perlahan-lahan.
Dia langsung terkesiap seolah baru saja dihajar oleh truk. Dia hampir tidak dapat memercayai
penglihatannya. Kemudian dia memutar kertas faks itu kembali, membaca huruf itu sekali lagi
dalam
posisi yang benar, lalu diputar balik lagi.
”Illuminati,” bisiknya.
Merasa sangat terguncang, Langdon jatuh terduduk di atas kursinya. Sesaat dia merasa sangat
kebingungan. Dengan perlahan matanya menatap ke arah lampu merah yang berkedip di mesin
raksnya. Siapa pun orang yang mengiriminya faks masih berada di sana ... menunggunya untuk
berbicara. Langdon menatap lampu ^in raksnya yang masih terus berkedip-kedip.
Kemudian dengan gemetar, dia mengangkat gagang telepon.
Malmkat & Ibus | 19
2
APAKAH KAMU MEMERHATIKANKU sekarang?” suara seorang lelaki berkata ketika
akhirnya Langdon mengangkat teleponnya.
”Ya. Saya benar-benar memerhatikan Anda sekarang. Siapa diri Anda sesungguhnya?”
”Aku sudah berusaha untuk mengatakannya kepadamu tadi.” Suara itu terdengar kaku seperti
mesin. ”Aku seorang ahli fisika. Aku mengelola sebuah fasilitas penelitian. Salah seorang staf
kami dibunuh. Kamu sendiri sudah melihat gambar mayat itu.”
”Bagaimana Anda dapat menemukan saya?” Langdon hampir tidak mampu memusatkan
perhatiannya. Pikirannya masih tertuju pada gambar yang terpampang di kertas faks.
”Aku sudah mengatakannya padamu. Dari internet. Dari situs bukumu, The Art of The
Illuminati.”
Langdon mencoba mengingat-ingat. Bukunya itu sesungguhnya tidak begitu terkenal di
lingkungan penerbitan konvensional, tetapi ternyata cukup ngetop juga di dunia maya. Walau
demikian, pengakuan orang yang meneleponnya ini sungguh tidak masuk akal. ”Situs itu tidak
mencantumkan informasi tentang alamat saya,” tan tang Langdon. ”Saya yakin akan hal itu.”
”Staf saya di lab sangat ahli dalam menemukan informasi pengguna internet dari sebuah situs.”
Langdon menjadi ragu. ”Sepertinya lab Anda tahu banyak tentang situs.”
”Memang harus begitu,” sahut lelaki itu ketus. ”Kami yang menciptakannya.”
Dari suaranya, Langdon tahu lelaki itu tidak bergurau. ”Aku harus bertemu denganmu,” desak
lelaki yang meneleponnya itu. ”Ini bukan masalah yang dapat dibicarakan lewat telepon. Labku
hanya satu jam penerbangan dari Boston.”
Langdon berdiri di dalam keremangan cahaya di ruang kerjanya dan memeriksa lembaran faks
di tangannya
Gambar yang sangat memengaruhinya itu bisa menjadi penemuan terbesar abad ini. Penelitiannya selama
berpuluh-puluh tahun kini ditegaskan hanya oleh satu simbol saja.
”Ini mendesak,” suara itu berkata dengan nada memaksa.
Mata Langdon terpaku pada tanda itu. Illuminati, dia membacanya berulang kali. Pekerjaannya
selama ini bisa dibilang berdasarkan pada fosil masa lalu seperti dokumen-dokumen kuno dan
kisah-kisah sejarah. Tapi gambar yang berada di hadapannya itu diambil pada masa kini. Langdon
merasa seperti seorang ahli paleontologi yang bertemu muka dengan seekor dinosaurus hidup.
”Aku sudah mengirimkan sebuah pesawat terbang,” lelaki berkata lagi. ”Pesawat itu akan tiba di
Boston dalam waktu dua puluh menit.”
Langdon merasa tegang. Satu jam penerbangan ....
”Aku harap Anda mau memaafkan kelancangan saya,” lanjutnya. ”Aku memerlukanmu di sini.”
Langdon kembali menatap kertas faks di tangannya dan merasa sebuah mitos kuno telah diperjelas
dengan gambar hitam-putih itu. Dampaknya mungkin saja menakutkan.
Dia lalu menatap kosong ke luar jendela. Tanda-tanda fajar menyingsing mulai tampak dari
pepohonan birch di halaman belakang rumahnya, tapi pemandangan itu tampak berbeda pagi ini.
Dengan perasaan takut dan gembira yang campur aduk di dalam dirinya, Langdon tahu dia tidak
punya pilihan.
”Kamu menang,” katanya. ”Katakan di mana aku dapat menemukan pesawatmu itu.”
RIBUAN MIL JAUHNYA dari rumah Langdon, dua orang lelaki bertemu. Ruangan itu gelap.
Bergaya abad pertengahan. Berdinding batu.
Malaikat & Iblis I 21
”Benvenuto,” sambut lelaki yang berwenang itu. Dia duduk di dalam kegelapan, jauh dari cahaya.
”Kamu berhasil?”
”Si,” kata si lelaki berkulit gelap. ”Perfettamente.” Kata-katanya terdengar sekeras dinding batu
ruangan itu.
”Dan dapat dipastikan tidak akan terlacak siapa yang bertanggung jawab?”
”Tidak seorang pun.”
”Hebat. Kamu mendapatkan apa yang kuminta?”
Mata pembunuh itu berkilap, hitam seperti minyak. Dia kemudian mengeluarkan sebuah alat
elektronik berat dan meletakkannya di atas meja.
Lelaki yang duduk dalam kegelapan tampak senang. ”Kamu bekerja dengan baik.”
”Melayani persaudaraan merupakan kehormatan bagiku,” kata si pembunuh.
”Bagian kedua akan segera dimulai. Beristirahatlah. Malam ini kita akan mengubah dunia.”
MOBIL SAAB 900S yang dikemudikan Langdon keluar dari Terowongan Callahan dan muncul
di sisi timur Pelabuhan Boston, tak jauh dari pintu masuk Bandara Logan. Ketika memeriksa
tujuannya, Langdon menemukan Aviation Road. Dia kemudian membelok ke kiri dan melewati
gedung Eastern Airlines. Setelah
300 yard melewati jalan masuk, terlihat sebuah hanggar berdiri di balik kegelapan dengan nomor
”4” berukuran besar dicat di atas atapnya. Dia memarkir mobilnya, lalu keluar.
Seorang lelaki berwajah bulat mengenakan setelan jas pilot berwarna biru muncul dari gedung itu.
”Robert Langdon?” serunya. Suaranya terdengar ramah. Dari aksennya, Langdon tidak dapat
menerka dari mana lelaki itu berasal.
”Benar,” kata Langdon sambil mengunci pintunya.
”Sangat tepat waktu,” ujar lelaki itu. ”Saya baru saja mendarat. Mari ikuti saya.”
Ketika mereka mengelilingi gedung itu, Langdon merasa tegang. Dia tidak terbiasa dengan telepon
yang tidak jelas tujuannya dan pertemuan rahasia dengan orang yang belum dikenalnya. Karena
dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya, dia hanya mengenakan pakaian yang biasa dikenakan
ketika mengajar; celana panjang khaki dari bahan katun, kaus turtleneck, dan jas wol rancangan
Harris. Ketika mereka berjalan, Langdon memikirkan faks yang berada di dalam saku jasnya. Dia
masih belum dapat memercayai gambar yang terpampang dalam kertas tersebut.
Pilot itu tampaknya merasakan kecemasan Langdon. ”Terbang bukan masalah bagi Anda, ’kan,
Pak?”
”Sama sekali tidak,” sahut Langdon. Mayat yang diberi cap, itu baru masalah bagiku. Kalau
hanya terbang aku masih bisa mengatasinya.
Lelaki itu membawa Langdon berjalan di sepanjang hanggar. Mereka membelok di sudut dan
menuju ke landasan pacu pesawat terbang.
Langdon berhenti dan menjadi kaku di atas landasan pacu. Dia melongo ketika menatap pesawat
yang diparkir di tempat parkir pesawat. ”Kita akan naik itu?”
Lelaki itu tersenyum. ”Suka?”
Langdon menatap benda
itu, lama. ”Suka? Benda apa itu?”
Pesawat di depan mereka besar sekali. Benda itu hampir menyempai pesawat ulang-alik, tetapi
bagian atasnya dipangkas sehingga meninggalkan sisa yang sangat rata. Terpakir seperti itu,
pesawat tersebut tampak seperti bongkahan kayu yang besar sekali. Kesan pertama Langdon
adalah, dia pasti sedang bermimpi. Kendaraan !tu tentunya masih bisa terbang seperti sebuah
Buick. Kedua sayapnya hampir tidak tampak, hanya menyerupai sirip-sirip gemuk
Malaikat & Iblis I 23
di bagian belakang tubuh pesawat tersebut. Sepasang sirip belakangnya mencuat ke luar di bagian
buritan. Bagian lain dari pesawat itu adalah lambung yang panjangnya sekitar 200 kaki dari depan
ke belakang. Tidak ada jendela, hanya lambung pesawat.
”Bobotnya 250 ribu kilogram dengan bahan bakar terisi penuh,” jelas si pilot dengan gaya seorang
ayah yang membanggakan bayinya yang baru lahir. ”Bahan bakarnya berupa hidrogen cair.
Rangkanya terbuat dari titanium matriks dengan serat silikon karbit. Pesawat ini memiliki rasio
daya tolak/berat sebesar 20:1, tidak sebanding dengan kebanyakan rasio jet biasa yang hanya
sebesar 7:1. Pak Direktur pasti sangat ingin bertemu dengan Anda. Tidak biasanya beliau
•mengirimkan bocah besar ini.”
”Benda ini bisa terbang?” tanya Langdon.
Pilot itu tersenyum. ”Oh, tentu.” Kemudian dia membawa Langdon menyeberangi landasan pacu
menuju pesawat tersebut. ”Saya tahu Anda terkejut, tapi sebaiknya Anda membiasakan diri. Lima
tahun lagi Anda akan melihat pesawat-pesawat semacam ini yang disebut HSCT atau High Speed
Civil Transport. Laboratorium kamilah yang pertama kali memilikinya.”
Pasti sejenis laboratorium yang tergila-gila dengan kecepatan, pikir Langdon.
”Ini adalah prototipe Boeing X-33,” pilot itu melanjutkan, ”tetapi masih ada belasan jenis lainnya
seperti National Aero Space Plane, Scramjet milik Rusia, dan HOTOL milik Inggris. Masa depan
itu berada di sini. Tidak lama lagi pesawat-pesawat seperti ini akan menjadi kendaraan umum.
Anda boleh mengucapkan selamat tinggal pada jet-jet kuno.”
Langdon memandang pesawat itu dengan hati-hati. ”Rasanya saya lebih menyukai jet kuno saja.”
Pilot itu memberi isyarat ke arah tangga pesawat. ”Ke arah sini, Pak Langdon. Hati-hati.”
Beberapa menit kemudian, Langdon sudah duduk di dalam kabin pesawat yang kosong. Pilot itu
memasangkan sabuk pengaman
24 
untuknya di barisan kursi depan, kemudian dia sendiri menghilang ke bagian depan pesawat.
Kabin itu sendiri tampak luas seperti kabin di pesawat komersial biasa. Perbedaannya hanyalah,
pesawat itu tidak punya jendela, dan hal itu membuat Langdon merasa tidak nyaman. Dia sudah
lama dihantui oleh perasaan takut kepada tempat tertutup atau claustrophobia; kenangan akan
kejadian di masa kecil yang tak pernah berhasil disingkirkannya.
Ketidaksukaan Langdon pada ruang tertutup tidak membuatnya sakit, tetapi hal itu selalu
membuatnya frustrasi. Perasaan itu muncul tanpa dia sadari. Karena itulah Langdon menghindari
olah raga di dalam ruangan tertutup seperti racquetball atau squash. Dia juga rela mengeluarkan
uang ekstra untuk membuat langitlangit tinggi yang sanggup memberikan udara lebih banyak di
rumah bergaya
Victoria miliknya, walaupun perumahan sederhana bagi para dosen sudah tersedia untuknya.
Langdon sering menduga ketertarikannya di masa muda pada dunia seni muncul karena dia sangat
menyukai ruangan luas dan terbuka yang terdapat di berbagai museum.
Mesin pesawat menyala dan menderu di bawahnya sehingga membuat lambung pesawat bergetar.
Langdon merasa sesak. Dia menunggu. Langdon merasakan pesawat tersebut mulai berjalan.
Musik country mulai terdengar lirih dari bagian atas kabin pesawat.
Pesawat telepon yang menempel di dinding di sisinya berbunyi dua kali. Langdon pun
mengangkatnya.
”Halo?” sapanya. Anda merasa nyaman, Pak Langdon?” tanya sang pilot.
”Tidak juga,” jawab Langdon. Santai saja. Kita akan tiba di sana satu jam lagi.”
”Dan ke mana sebenarnya di sana itu?” tanya Langdon ketika sadar dia tidak tahu ke mana tujuan
mereka.
Jenewa,” jawab sang pilot sambil menambah daya mesin pesawatnya. ”Laboratoriumnya berada
di Jenewa.”
Maiaikat & Ibus I 25
”Jenewa,” ulang Langdon. Dia merasa agak lebih baik sekarang. ”Di utara New York? Saya
sebenarnya memiliki saudara di dekat Danau Seneca. Saya tidak tahu kalau Jenewa memiliki
kboratorium fisika.”
Pilot itu tertawa. ”Bukan Jenewa New York, Pak Langdon. Jenewa di Swiss.”
Langdon membutuhkan waktu cukup lama untuk mencerna kalimat itu. ”Swiss?” Langdon merasa
denyut nadinya menjadi lebih cepat. ”Saya kira tadi Anda mengatakan bahwa perjalanan ini hanya
memakan waktu satu jam!”
”Memang, Pak Langdon.” Pilot itu terkekeh. ”Pesawat ini memiliki kecepatan 15 mach.”
5
DI SEBUAH JALAN yang sibuk di Eropa, si pembunuh menyelinap di antara kerumunan orang.
Dia lelaki yang kuat, berkulit gelap dan perkasa. Dia juga luar biasa tangkas. Otot-ototnya masih
terasa keras karena ketegangan pertemuannya tadi.
Pekerjaanku sudah berlangsung dengan baik, katanya dalam hati. Walau bosnya tidak pernah
memperlihatkan wajahnya, si pembunuh sudah merasa terhormat boleh berhadapan langsung
dengannya. Bukankah baru 15 hari sejak bosnya pertama kali menghubunginya? Si pembunuh itu
masih dapat mengingat dengan jelas tiap kata dalam pembicaraan telepon mereka ...
”Namaku Janus,” kata orang yang meneleponnya waktu itu. ”Kita masih sanak saudara atau
semacam itu. Kita memiliki musuh yang sama. Aku dengar orang bisa menyewa keahlianmu.”
”Tergantung kamu mewakili siapa,” sahut si pembunuh.
Orang yang meneleponnya itu kemudian memberitahunya.
”Kamu sedang bercanda?”
”Tampaknya kamu pernah mendengar nama kami,” jawab lelaki yang meneleponnya itu.
”Tentu saja. Persaudaraan itu adalah sebuah legenda.”
”Tapi, kamu tidak percaya kalau aku mewakili organisasi yang
asli.”
”Semua orang tahu kalau persaudaraan itu sudah punah.”
”Itu hanya akal-akalan kami saja. Musuh yang paling berbahaya adalah sesuatu yang tidak
ditakuti oleh seorang pun.” IRmbunuh itu ragu-ragu. ”Persaudaraan itu masih ada?”
”Semakin tersembunyi daripada sebelumnya. Akar kami menyusup ke semua tempat yang kamu
lihat ... bahkan ke dalam benteng suci milik musuh bebuyutan kami.”
”Tidak mungkin. Mereka tidak dapat dilukai.”
”Jangkauan kami jauh.”
”Tidak seorang pun dapat menjangkau sejauh itu.”
”Kamu akan segera memercayainya. Sebuah demonstrasi kekuatan persaudaraan yang sulit untuk
dibantah telah terjadi. Satu tindakan pengkhianatan dan pembuktian.”
”Apa yang kamu lakukan.” c
Orang yang meneleponnya itu mengatakannya. ^
Mata si pembunuh membelalak. ”Itu tugas yang tidak masuk akal.”
Keesokan harinya, koran-koran di seluruh dunia menampilkan berita utama yang sama. Si
pembunuh pun akhirnya memercayai keberadaan persaudaraan itu.
Kini, 15
hari kemudian, keyakinan pembunuh itu semakin kuat sehingga tidak ada keraguan lagi.
Persaudaraan itu masih ada, pikirnya. Malam ini mereka akan menunjukkan kekuasaan mereka.
Ketika dia menyusuri jalan itu, mata hitamnya berkilauan oleh gambaran masa depannya. Salah
satu dari persaudaraan yang paling tertutup dan paling ditakuti yang pernah ada telah
meneleponnya untuk meminta bantuannya. Mereka sudah memilih dengan bijaksana, pikirnya.
Reputasinya dalam menjaga kerahasiaan hanya bisa dikalahkan oleh reputasinya dalam memenuhi
tenggat waktu.
Sejauh ini, dia sudah melayani mereka dengan rasa hormat. Dia telah melakukan pembunuhan dan
menyampaikan barang seperti yang dikehendaki oleh Janus. Sekarang terserah Janus mau
ditempatkan di mana benda tersebut.
Penempatan ...
Si pembunuh bertanya-tanya bagaimana Janus dapat menangani tugas yang begitu pelik seperti
itu. Lelaki itu~ pasti memiliki koneksi orang dalam. Sepertinya dominasi persaudaraan itu tidak
terbatas.
Janus, pikir sang pembunuh. Pasti itu hanya sebuah nama sandi. Dia bertanya-tanya apakah itu
mengacu pada nama dewa Romawi yang memiliki dua wajah ... atau pada bulan Saturnus?
Baginya tidak ada bedanya. Janus memiliki kekuasaan yang luar biasa. Dia telah
membuktikannya.
Ketika pembunuh itu berjalan, dia membayangkan nenek moyangnya tersenyum padanya dari atas
sana. Hari ini dia telah bertempur untuk memperjuangkan tujuan mereka. Dia memerangi musuh
yang sama yang sudah mereka perangi selama berabadabad sejak sebelas abad silam ... ketika
tentara salib musuh mereka itu pertama kali menjarah tanah mereka, memerkosa dan membunuh
rakyatnya, menuduh mereka sebagai orang-orang yang tidak suci, lalu menghancurkan kuil-kuil
dan dewa-dewa mereka.
Nenek moyangnya telah membentuk pasukan kecil tetapi mematikan untuk melindungi diri
mereka sendiri. Pasukan itu mulai terkenal di seluruh negeri sebagai pelindung—penghukum
handal yang menjelajahi seluruh negeri untuk membunuhi setiap musuh yang mereka temukan.
Mereka terkenal tidak hanya karena pembunuhan-pembunuhan brutal yang mereka lakukan, tetapi
juga karena mereka merayakan pembantaian itu dengan cara mabukmabukan. Pilihan mereka
adalah minuman keras yang sangat memabukkan yang mereka sebut hashish.
Ketika nama buruk mereka mulai tersebar, kelompok pembunuh itu menjadi terkenal dengan satu
sebutan saja, hassassin, yang makna harfiahnya berarti ”pengikut hassish”. Nama hassassin
ndiri memiliki makna yang sama dengan kematian dalam hampir tiap bahasa di muka bumi ini.
Kata itu masih digunakan hingga karang, bahkan dalam bahasa Inggris modern ... namun seperti
• ea keahlian mereka untuk membunuh, kata itu lambat laun
mengalami sedikit perubahan.
Sekarang kata itu diucapkan sebagai assassin.
6
ENAM PULUH EMPAT menit telah berlalu ketika Robert Langdon, yang masih tidak percaya
dan mabuk udara, menuruni tangga pesawat dan berjalan di landasan yang disinari cahaya
matahari. Angin dingin membuat kerah jas wolnya berkibar. Udara terbuka membuatnya senang.
Dia menyipitkan matanya ketika menatap lembah hijau subur yang menjulang ke puncak
berselimut salju di sekeliling mereka.
Aku sedang bermimpi, katanya dalam hati. Sebentar lagi aku akan terjaga.
”Selamat datang
di Swiss,” seru sang pilot keras untuk mengalahkan deru mesin pesawat X-33 yang bising dan
berbahan bakar HEDM yang menimbulkan kabut di belakang mereka.
Langdon memeriksa jam tangannya. Pukul 7:07 pagi.
Anda baru saja melintasi enam zona waktu,” jelas sang pilot tanpa diminta. ”Di sini pukul satu
siang lebih sedikit.”
Langdon menyesuaikan jam tangannya.
”Bagaimana perasaan Anda?”
Langdon mengusap perutnya. ”Seperti baru saja menelan styrofoam.”
Pilot itu mengangguk. ”Mabuk ketinggian. Kita tadi terbang di ketinggian 60 ribu kaki di atas
permukaan laut. Berat tubuh Anda 30% lebih ringan. Untunglah kita hanya terguncang-guncang
sedikit. Kalau kita pergi ke Tokyo, aku harus menerbangkan pesawat
itu lebih tinggi lagi, beberapa ratus mil lagi. Pada saat itulah baru Anda akan merasa perut Anda
jungkir balik.”
Langdon mengangguk lesu dan menganggap dirinya beruntung. Semuanya terasa seperti
penerbangan yang biasa-biasa saja. Kecuali percepatan yang mereka alami ketika mengudara,
gerakan pesawat itu hampir sama dengan pesawat lainnya—kadang-kadang mengalami sedikit
turbulensi, lalu mengalami beberapa perubahan tekanan udara ketika mereka mulai menanjak,
tetapi tidak terasa kalau mereka sedang melesat di udara dengan kecepatan luar biasa sebesar
11.000 mil per jam.
Sejumlah teknisi bergegas menuju landasan untuk mengurus pesawat X-33 itu. Sang pilot
kemudian menemani Langdon menuju ke sebuah sedan Peugeot hi tarn yang diparkir di samping
menara pengawas. Beberapa saat kemudian mereka sudah meluncur cepat menyusuri jalan aspal
yang terbentang di atas dataran lembah. Sekelompok gedung tampak samar menjulang di
kejauhan. Di luar mobil mereka, Langdon melihat padang rumput tampak kabur karena kecepatan
mobil mereka.
Langdon menatap pilot itu dengan tatapan tidak percaya ketika dia menaikkan kecepatan menjadi
sekitar 170 kilometer per jam—lebih dari 100 mil per jam. Ada masalah apa antara orang ini
dengan kecepatan? Langdon bertanya-tanya.
”Lima kilometer lagi kita akan tiba di laboratorium,” kata si pilot. ”Saya akan mengantar Anda ke
sana dalam waktu dua menit.”
Langdon berusaha mencari sabuk pengaman dengan sia-sia. Mengapa tidak tiga menit saja dan
tiba di sana dengan selamat?
Mobil itu terus melesat seperti berpacu.
”Anda suka Reba?” tanya si pilot sambil memasukkan sebuah kaset ke dalam mesin pemutar
kaset.
Terdengar suara perempuan mulai menyanyi. ”Itu hanya ketakutan akan kesendirian ...”
Tidak ada ketakutan di sini, pikir Langdon. Rekan kerjanya yang perempuan sering mengolokolok
dirinya dengan mengatakan
, I i^j artifak yang setara dengan koleksi museum itu tak lebih
A i usahanya untuk mengisi rumahnya yang kosong, rumah yang
nurut mereka akan tampak lebih cantik dengan kehadiran
rang wanita. Langdon selalu menertawakan gurauan itu dan
engingatkan mereka bahwa dirinya sudah memiliki tiga cinta
dalam hidupnya; simbologi, polo air, dan status lajang. Yang
terakhir ini berarti kebebasan yang memungkinkan dirinya untuk
bepergian keliling dunia, tidur selarut yang dia kehendaki, dan
menikmati malam-malam tenang di rumah sambil meneguk brandy
dan membaca sebuah buku bagus.
”Kompleks kami seperti sebuah kota kecil,” kata si pilot seperti menyadarkan Langdon dari
lamunannya. ”Tidak hanya berisi laboratorium. Kami juga memiliki beberapa toko swalayan,
sebuah rumah sakit, bahkan sebuah gedung bioskop.”
Langdon
mengangguk tanpa ekspresi dan melihat ke luar, ke arah gedung-gedung yang menjulang di
hadapan mereka.
”Sebetulnya,” tambah si pilot, ”kami juga memiliki mesin terbesar di dunia.”
”Sungguh?” tanya Langdon sambil menyusuri pedesaan itu dengan matanya.
”Anda tidak akan melihatnya dari situ, Pak.” Pilot itu tersenyum. ”Mesin itu kami tanam enam
tingkat di bawah tanah.”
Langdon tidak punya waktu lama untuk bertanya. Tiba-tiba, pilot itu menginjak pedal remnya.
Mobil tersebut berhenti dengan suara berdecit di luar sebuah pos penjagaan dari beton.
Langdon membaca tulisan di depannya. SECURITE. ARRETEZ*. Tiba-tiba Langdon merasakan
gelombang kepanikan karena sadar di mana dia berada sekarang. ”Ya Tuhan! Aku tidak membawa
paspor.”
Paspor tidak diperlukan,” kata sang pilot meyakinkannya. Kami memiliki hak istimewa dari
pemerintah Swiss.”
Pos Keamanan. Berhenti.
Langdon hanya terpaku ketika supirnya memberikan sebuah kartu identitas kepada sang penjaga.
Penjaga itu kemudian menggesekkannya pada sebuah alat pemeriksa. Alat itu menyala hijau.
”Nama penumpang?”
”Robert Langdon.”
”Tamu siapa?”
”Pak Direktur.”
Penjaga itu menaikkan alisnya. Dia kemudian menoleh dan memeriksa kertas hasil cetakan
komputer lalu membandingkannya dengan informasi yang ada di layar komputer. Dia kemudian
kembali ke jendela mobil. ”Nikmati kunjungan Anda, Pak Langdon.”
Mobil itu melesat lagi, meluncur sepanjang 200 yard, lalu mengitari sebuah bundaran luas yang
membawa mereka di depan pintu masuk utama gedung itu. Sebuah gedung persegi bergaya ultra
modern, terdiri atas kaca dan baja, menjulang di depan mereka. Langdon kagum pada rancangan
tembus pandang gedung itu. Dia selalu menyukai arsitektur.
”Katedral Kaca,” jelas pengawalnya tanpa diminta.
”Sebuah gereja?”
”Ya ampun, bukan. Gereja adalah satu-satunya yang tidak kami miliki di sini. Fisika adalah agama
di sekitar sini. Anda bisa menyebut nama Tuhan sebanyak yang Anda mau dengan sia-sia di sini,”
dia tertawa. ”Asal Anda tidak menjelek-jelekkan quark dan meson* saja.”
Langdon duduk dengan bingung ketika supirnya membelokkan mobil dan menghentikannya di
depan gedung kaca tersebut. Quark dan meson? Tidak ada pemeriksaan di perbatasan? Jet
berkecepatan
15 mach? Siapa orang-orang ini? Sebuah lempengan batu granit di depan gedung menunjukkan jawaban
untuk pertanyaan Langdon:
*quark: elemen dasar yang dianggap muncul secara berpasangan; meson: kelompok partikel dasar yang
membentuk quark dan antiquark (istilah dalam ilmu fisika)—peny.
(CERN)
Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire
”Penelitian nuklir?” tanya Langdon yang tidak terlalu yakin dengan keakuratan terjemahannya.
Supirnya tidak menjawabnya. Dia hanya mencondongkan tubuhnya ke depan dan sibuk mengatur
pemutar kaset di mobilnya. ”Ini tujuan Anda. Pak Direktur akan menemui Anda
di pintu masuk.”
Langdon melihat seorang lelaki yang duduk di atas kursi roda, keluar dari gedung. Tampaknya
lelaki itu berusia awal 60an. Terlihat cekung, berkepala botak dan berahang keras, dia
mengenakan jas lab putih dan sepatu dari kain yang tampak menyembul dari bantalan kaki kursi
rodanya. Bahkan dari kejauhan, matanya tampak kosong seperti sepasang batu kelabu.
”Itu Pak Direktur?” tanya Langdon.
Supirnya mendongak. ”Yah, aku akan seperti itu,” dia menoleh kepada Langdon dan tersenyum
menyebalkan. ”Kalau bicara tentang setan.”
Dengan perasaan tidak pasti dengan apa yang akan dihadapinya, Langdon keluar dari mobil.
Lelaki di atas kursi roda itu meluncur ke arah Langdon dan menjulurkan tangannya yang lembab.
”Pak Langdon? Kita sudah berbicara di telepon. Namaku Maximilian Kohler.”
7
DI BELAKANGNYA, Maximilian Kohler, Direktur Jenderal CERN, sering disebut sebagai
Konig atau Sang Raja. Julukan yang diberikan oleh para pegawainya itu lebih disebabkan oleh
rasa takut dibandingkan dengan kenyataan bahwa ”sang raja” memerintah
Malaikat & Iblis I 33
dari singgasana yang berupa kursi roda. Walau hanya sedikit orang yang mengenal Kohler secara
pribadi, kisah mengenai penyebab kelumpuhannya itu telah tersebar di CERN. Begitu pula dengan
kisah tentang penyebab sifat dinginnya dan sumpah setianya pada ilmu-ilmu murni.
Meski Langdon baru beberapa saat berada di depan Kohler, dia sudah dapat merasa kalau sang
direktur adalah orang yang menjaga jarak. Langdon hams berlari-lari kecil agar bisa tetap berada
di samping kursi roda listrik yang membawa sang direktur meluncur tanpa suara ke arah pintu
masuk utama. Langdon belum pernah melihat kursi roda seperti itu. Kursi roda itu dilengkapi
dengan tempat penyimpanan peralatan elektronik termasuk telepon multi saluran, sistem
penyeranta, layar komputer, bahkan sebuah kamera video yang dapat dilepas. Kursi roda listrik itu
sepertinya menjadi pusat kendali berjalan Raja Kohler.
Langdon mengikutinya melewati pintu mekanis dan memasuki lobi utama CERN yang sangat
luas.
Katedral Kaca, kata Langdon senang sambil melihat ke arah langit.
Di atasnya, langit-langit kaca berwarna kebiruan yang berkilauan di bawah sinar matahari sore
memberikan pantulan sinar dengan pola-pola geometris di udara sehingga menimbulkan kesan
agung pada ruangan di bawahnya. Bayangan siku-siku terlihat seperti urat nadi dan menghiasi
dinding keramik putih dan lantai pualam. Udara tercium bersih dan bebas hama. Sejumlah
ilmuwan hilir mudik dengan cepat. Langdon mendengar bunyi langkah mereka menggema di
ruangan kosong tersebut.
”Ke sebelah sini, Pak Langdon.” Suara Kohler terdengar hampir seperti suara dari komputer.
Aksennya kaku dan tepat seperti penampilannya. Kohler terbatuk dan menyeka mulutnya dengan
sapu tangan putih sambil menatap Langdon dengan mata kelabunya. ”Ayo cepat.” Kursi rodanya
terlihat seperti melompati lantai pualam itu.
Langdon mengikutinya dan melewati ribuan koridor yang
aba ke atrium utama. Setiap koridor ramai dengan berbagai
iatan. Para ilmuwan yang melihat Kohler tampak terkejut dan
^merhatikan Langdon seolah mereka bertanya-tanya siapa
gerangan tamu yang menemani pimpinan mereka.
”Aku malu mengakui kalau saya belum pernah mendengar tentang CERN sebelumnya,” Langdon
berusaha untuk membangun percakapan dengan Sang Raja.
”Tidak heran,” sahut Kohler cepat. Jawabannya terdengar sangat efisien. ”Sebagian besar orang
Amerika memang tidak menganggap Eropa sebagai pemimpin dunia di bidang penelitian ilmiah.
Mereka hanya melihat Eropa tak lebih dari sekadar distrik pertokoan kuno. Sebuah pemikiran
yang aneh kalau Anda ingat dari mana Einstein, Galileo dan Newton berasal.”
Langdon tidak yakin bagaimana
dia harus menjawab. Dia lalu menarik kertas faks itu dari dalam sakunya. ”Orang dalam foto ini,
dapatkah Anda—”
Kohler memotong kalimat Langdon dengan mengibaskan tangannya. ”Jangan di sini. Aku sedang
membawa Anda untuk melihatnya.” Dia kemudian mengulurkan tangannya. ”Mungkin sebaiknya
saya saja yang menyimpannya,” katanya sambil mengambil kertas faks dari tangan Langdon.
Langdon menyerahkan kertas faks itu dan melanjutkan melangkah tanpa berkata-kata.
Kohler membelok tajam ke kiri dan memasuki koridor lebar yang dihiasi oleh berbagai tanda
penghargaan. Sebuah plakat yang sangat besar mendominasi koridor itu. Ketika mereka
melewatinya, Langdon memperlambat langkahnya untuk membaca ukiran di atas sebuah logam
perunggu.
PENGHARGAAN ARS ELECKTRONICA
Untuk Inovasi Budaya Di Era Digital
Diberikan kepada Tim Berners Lee dan CERN
Atas Penemuan WORLD WIDE WEB
Wah, kurang ajar, pikir Langdon ketika membaca tulisan tersebut. Orang ini tidak main-main.
Selama ini Langdon selalu mengira kalau internet diciptakan oleh orang Amerika. Terlebih lagi,
pengetahuannya tentang situs hanya terbatas pada penjelajahan online mengenai Louvre atau El
Prado dengan menggunakan komputer Macintosh tuanya.
”Internet,” kata Kohler sambil terbatuk lagi lalu menyeka mulutnya, ”dimulai dari sini sebagai
sebuah jaringan situs komputer internal. Teknologi ini memungkinkan para ahli dari berbagai
divisi untuk berbagi penemuan mereka dengan rekan kerja mereka setiap hari. Tapi tentu saja,
semua orang mengira internet adalah teknologi dari Amerika.”
Langdon berusaha mengikuti kecepatan kursi roda Kohler. ”Mengapa tidak meluruskan
pemahaman itu?”
Kohler mengangkat bahunya dan nampak tidak tertarik. ”Kekeliruan sepele untuk sebuah
teknologi yang sepele. CERN jauh lebih hebat dibandingkan dengan koneksi komputer global.
Ilmuwan kami menghasilkan banyak keajaiban hampir setiap hari.”
Langdon menatap Kohler dengan tatapan tidak mengerti. ”Keajaiban?” Kata ”keajaiban” jelas
tidak ada dalam kamus di fakultas ilmu pasti di Harvard. Keajaiban hanya untuk mereka yang
belajar teologi..
”Anda sepertinya ragu-ragu,” kata Kohler. ”Saya pikir Anda seorang ahli simbologi agama. Anda
tidak percaya pada keajaiban?”
”Sikap saya netral dengan keajaiban,” kata Langdon. Terutama dengan keajaiban yang terjadi di
lab ilmu pasti.
”Mungkin keajaiban adalah kata yang salah. Saya hanya berusaha untuk menggunakan istilah
dalam bahasa Anda.”
”Bahasa saya?” Langdon tiba-tiba merasa tidak nyaman. ”Saya tidak bermaksud untuk
mengecewakan Anda, Pak, tetapi saya mempelajari simbologi agama—saya seorang akademisi
bukan seorang pendeta.”
Tiba-tiba Kohler memperlambat lajunya dan menoleh ke arah Langdon. Tatapannya agak
Orang tidak perlu mengidap kanker untuk memahami gejala yang dimiliki oleh penyakit itu.”
Langdon belum pernah mendengar ada orang memberikan garnbaran seperti yang dikatakan oleh
Kohler.
Ketika mereka berjalan di sepanjang koridor itu, Kohler mengangguk. ”Saya kira Anda dan saya
bisa saling memahami dengan sangat baik, Pak Langdon.”
Entah bagaimana, Langdon meragukannya.
Ketika mereka berjalan dengan terburu-buru, Langdon merasakan adanya getaran kuat yang
berasal dari atas. Suara bising itu menjadi semakin keras setiap kali dia melangkah, dan getaran
tersebut seperti bergema di dinding. Sepertinya suara itu berasal dari ujung koridor di hadapan
mereka.
”Apa itu?” akhirnya Langdon bertanya dengan suara keras. Dia merasa seakan sedang mendekati
sebuah gunung api yang sedang aktif.
”Tabung Terjun Bebas,” jawab Kohler. Suaranya yang tanpa ekspresi dapat menembus kebisingan
itu dengan mudah. Setelah itu dia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Langdon juga tidak bertanya lagi. Dia letih. Selain itu Maximilian Kohler juga sepertinya tidak
tertarik untuk memenangkan penghargaan sebagai tuan rumah yang ramah. Langdon
mengingatkan dirinya sendiri untuk apa dia berada di sini. Demi Illuminati. Dia menduga di
fasilitas yang sangat besar ini ada sesosok mayat ... mayat yang dicap dengan sebuah simbol yang
membuatnya terbang sejauh 3000 mil agar dapat melihatnya.
Ketika mereka mendekati ujung koridor tersebut, kebisingan itu menjadi hampir memekakkan dan
menggetarkan telapak kaki langdon. Mereka berbelok, dan menemukan ruangan di sisi kanan
mereka. Empat pintu berlapis kaca tebal terdapat di dinding yang melengkung sehingga terlihat
seperti jendela di kapal selam. Langdon berhenti dan melongok ke dalam salah satu lubang itu.
Profesor Robert Langdon pernah melihat beberapa haJ aneh dalam hidupnya, tapi ini adalah yang
paling aneh. Dia mengejapkan matanya beberapa kali sambil bertanya-tanya apakah dia sedang
berhalusinasi. Dia mengintip ke dalam sebuah ruangan bundar yang berukuran luar biasa besar. Di
dalam ruangan itu dia melihat beberapa orang mengambang seolah tidak berbobot. Semuanya ada
tiga orang. Salah satu dari mereka melambaikan tangannya dan berjungkir balik di udara.
Ya, Tuhan, seru Langdon. Aku berada di negeri para peril Di lantai ruangan itu terdapat jalinan
yang saling bertautan seperti Iembaran kawat ayam yang besar sekali. Di bawah jalinan itu samarsamar
terlihat sebuah baling-baling besar dari metal.
”Tabung Terbang Bebas,” kata Kohler sambil berhenti menunggu Langdon. ”Skydiving di dalam
ruangan. Bagus untuk menghilangkan stres. Ini adalah terowongan angin vertikal.”
Langdon memandang dengan kagum. Salah satu dari orangorang yang melayang-layang itu adalah
seorang perempuan yang sangat gemuk dan dia sekarang bergerak mendekati jendela. Perempuan
itu melayang dengan ditopang hanya oleh putaran arus udara. Dia tersenyum dan memberi isyarat
kepada Langdon dengan mengangkat ibu jarinya. Langdon tersenyum samar dan membalas isyarat
itu sambil bertanya-tanya dalam hatinya, apakah perempuan itu tahu bahwa dia baru saja memberi
simbol phalus, simbol kejantanan pria, padanya.
Langdon melihat kalau perempuan gemuk itu adalah satusatunya orang yang mengenakan parasut
kecil. Secarik bahan yang menggelembung di atas perempuan itu tampak seperti mainan. ”Parasut
kecil itu untuk apa?” tanya Langdon kepada Kohler. ”Saya yakin diameternya tidak lebih dari satu
yard.”
”Friksi,” jawab Kohler. ”Mengurangi aerodinamika tubuhnya sehingga baling-baling di bawah itu
dapat mengangkatnya.” Lalu dia mulai berjalan lagi. ”Satu yard persegi parasut dapat
memperlambat jatuhnya tubuh sebesar hampir dua puluh persen.”
Langdon mengangguk walau masih agak bingung.
Dia tidak tahu kalau malam harinya, di sebuah negara yang , ^ fibuan mil jauhnya, informasi
seperti itu bisa menyelamatkan hidupnya.
8
KETIKA KOHLER dan Langdon keluar dari bagian belakang kompleks utama CERN dan
menyambut sinar matahari Swiss, Langdon merasa seperti dipulangkan ke rumah. Pemandangan
yang baru saja dilihatnya ini seperti yang terdapat di sebuah kampus bergengsi di Amerika.
Langdon melihat lereng yang menurun ke arah dataran luas di mana sekelompok pohon sugar
maples tumbuh di lapangan persegi yang dibatasi oleh gedung asrama dari batu bata dan jalan
kecil untuk pejalan kaki. Beberapa orang dengan penampilan serius dan membawa tumpukan
buku, bergegas keluar masuk dari gedung itu. Seperti ingin mempertajam kesan bahwa ini adalah
lingkungan orang yang terpelajar, dua orang hippies sedang main lempar-lemparan Friesbee
sambil menikmati Simfoni Keempat karya Mahler yang suaranya terdengar keras dari salah satu
jendela asrama.
”Ini asrama tempat tinggal kami,” jelas Kohler sambil mempercepat laju kursi rodanya di atas
jalan kecil yang membawa mereka ke arah gedung-gedung tersebut. ”Kami mempunyai lebih dari
tiga ribu ahli fisika di sini. CERN sendiri mempekerjakan hampir separuh dari ahli fisika partikel
di seluruh dunia. Mereka orangorang terpandai di dunia. Mereka berasal dari Jerman, Jepang,
Italia, Belanda, dan Iain-lain. Ahli-ahli fisika kami berasal dari
h d2” lima ratus universitas dan enam puluh bangsa.”
Langdon kagum. ”Bagaimana caranya mereka berkomunikasi?”
”Dalam bahasa Inggris tentu saja. Bahasa ilmu pengetahuan universal.”
Selama ini Langdon selalu mendengar bahwa matematikalah yang merupakan bahasa ilmu
pengetahuan universal, tapi dia sudah terlalu letih untuk berdebat. Dengan patuh dia mengikuti
Kohler menuruni jalan kecil itu.
Di tengah perjalanan menuruni lereng, seorang pemuda berlari-lari kecil melewati mereka.
Kausnya bertuliskan pesan: NO GUT, NO GLORY!*
Langdon menatap punggung pemuda itu dengan bingung. ”Gut?”
”General Unified Theory,” jelas Kohler.
”Oh begitu,” sahut Langdon tanpa memandang lawan bicaranya. Setahunya kata gut hanya berarti
keberanian. ”Anda tahu fisika partikel, Pak Langdon?” Langdon mengangkat bahunya. ”Saya
hanya tahu tentang fisika umum, seperti benda-benda yang jatuh karena gravitasi atau
semacam itulah.” Pengalaman Langdon dalam kegiatan loncat indah selama bertahun-tahun
telah membuatnya terpesona dengan kekuatan percepatan gravitasi yang mengagumkan. ”Fisika
partikel adalah kajian tentang atom, bukan?”
Kohler menggelengkan kepalanya. ”Atom terlihat seperti sebuah planet kalau dibandingkan
dengan apa yang kami tangani ini. Minat kami adalah pada inti atom yang berukuran 1/10.000
dari ukuran atom secara keseluruhan.” Kohler batuk lagi dan suaranya terdengar seperti sakit.
”Para ilmuwan di CERN berusaha mencari jawaban dari berbagai pertanyaan yang sudah
ditanyakan oleh manusia sejak awal peradaban. Dari mana kita berasal? Dari elemen apa kita
dibuat?”
”Dan jawaban-jawaban itu ada di dalam lab fisika?”
”Anda sepertinya terkejut.”
”Memang. Pertanyaan itu sepertinya lebih bersifat spritual.”
*Tiada kemasyhuran tanpa keberanian—peny.
”Pak Langdon, semua pertanyaan tadi memang spiritual pada
lnva. Sejak awal peradaban, spiritualitas dan agama digunakan
tuk mengisi celah-celah yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu
tahuan. Terbit dan tenggelamnya matahari dulu pernah
dhubungkan dengan dewa Helios dan kereta kuda berapi. Gempa
bumi dan gelombang pasang dianggap sebagai kemarahan dewa
Poseidon. Ilmu pengetahuan kini membuktikan bahwa dewa-dewa
itu adalah sembahan palsu. Tidak lama lagi Tuhan juga akan
terbukti sebagai sembahan palsu. Kini ilmu pengetahuan telah
menemukan jawaban untuk hampir semua pertanyaan yang bisa
ditanyakan oleh manusia. Hanya ada beberapa pertanyaan yang
masih belum terjawab, dan itu semua merupakan pertanyaanpertanyaan
yang luar biasa sulit. Dari mana kita berasal? Apa
yang kita lakukan di sini? Apa arti kehidupan dan alam semesta?”
Langdon kagum. ”Dan CERN berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?”
”Ralat. Itu adalah pertanyaan-pertanyaan
yang kita semua berusaha untuk menjawabnya.”
Langdon terdiam ketika mereka terus berjalan ke arah kompleks asrama. Saat itulah sebuah
Frisbee melayang ke arah mereka dan mendarat tepat di depan mereka. Kohler tidak
memedulikannya dan terus berjalan.
Terdengar suara berseru dari sisi lain lapangan, ”S’il vous plait!” dalam bahasa Perancis. ”Tolong
ambilkan!”
Langdon mencari sumber suara itu. Seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi, berambut putih,
dan mengenakan sweatshirt bertuliskan COLLEGE PARIS melambai ke arahnya. Langdon
kemudian memungut Frisbee itu lalu dengan terampil melemparkannya kembali ke sana. Lelaki
tua itu mengangkapnya dengan satu jari dan melambung-lambungkannya beberapa kali sebelum
dia melemparkannya kembali kepada teman bermainnya. ”Merci!” serunya kepada Langdon.
”Terima kasih!”
Selamat,” kata Kohler ketika Langdon kembali berjalan di lsinya lagi. ”Anda baru saja main
lempar-lemparan dengan seorang pemenang Nobel, Georges Charpak, sang penemu multiwire proportional chamber.”
Langdon mengangguk. Mungkin ini hari keberuntunganku.
Setelah tiga menit berjalan, Langdon dan Kohler akhirnya sampai ke sebuah ruang duduk asrama
yang terawat dengan baik di balik rerimbunan pohon aspen. Dibandingkan dengan asramaasrama
lainnya, gedung ini tampak mewah. Di plakat dari batu tertulis: GEDUNG C. . Nama yang
imajinatif, ejek Langdon.
Walau nama itu terdengar dingin, arsitektur Gedung C yang konservadf dan kokoh itu menarik
perhatian Langdon. Gedung tersebut memiliki bagian depan yang terbuat dari bata merah, kusen
dengan hiasan yang menarik, dan dikelilingi oleh pagar berukir yang simetris. Ketika kedua lelaki
itu menaiki tangga batu menuju ke pintu, mereka melewati gerbang yang terbentuk dari dua pilar
pualam. Sepertinya seseorang memasang stiker di salah satu tiang. Di sana tertulis:
PILAR INI IONIS
Grafiti yang dibuat oleh ahli ilmu fisika? kata Langdon lucu sambil melihat pilar tersebut dan
tertawa sendiri. ”Ternyata seorang ahli fisika yang sangat pandai sekalipun bisa membuat
kesalahan.”
Kohler melihatnya. ”Apa maksud Anda?”
”Siapa pun yang menuliskan catatan itu pasti tidak tahu kalau tulisannya salah. Pilar itu bukan
pilar gaya Ionia. Pilar-pilar Ionia selalu sama lebarnya. Yang ini ujungnya meruncing. Itu pilar
gaya Doria. Salah kaprah seperti memang ini sering terjadi.”
Kohler tidak tersenyum. ”Penulisnya tidak bermaksud untuk bergurau, Pak Langdon. Ionis artinya
mengandung ion atau partikel-partikel yang dialiri listrik. Sebagian besar benda berisi
ion.
Langdon menatap pilar itu lagi dan melongo.
don masih merasa bodoh ketika dia melangkahkan kakinya \, 1 r dari lift yang membawa mereka
ke lantai teratas Gedung r Dia mengikuti Kohler berjalan ke koridor yang mewah. Dekoinya luar
biasa: bergaya kolonial Perancis. Dia- bisa melihat sebuah sofa dari kayu cherry, jambangan
bunga dari keramik, dan ukiran kayu bermotif melingkar-lingkar.
”Kami suka membuat para ilmuwan kami merasa nyaman,”
jelas Kohler.
Tidak diragukan lagi, sahut Langdon dalam hati. ”Jadi, orang yang fotonya Anda kirimkan lewat
faks ke saya pernah tinggal di sini? Dia salah satu dari pegawai eselon tinggi?”
”Tenang,” kata Kohler. ”Lelaki itu tidak hadir dalam rapat denganku pagi ini dan tidak menjawab
penyerantanya. Aku datang ke sini dan menemukannya meninggal di ruang tamunya.”
Langdon tiba-tiba merinding ketika dia sadar kalau sebentar lagi dia akan melihat mayat. Perutnya
tidak cukup kuat untuk menghadapinya. Ini adalah kelemahan yang baru diketahuinya saat dia
menjadi mahasiswa jurusan seni
ketika dosennya berkata bahwa Leonardo Da Vinci mendapatkan keahliannya dalam memahami
bentuk tubuh manusia dengan cara menggali kembali mayat dari kuburan dan mengiris tubuh
mayat tersebut.
Kohler mengajak Langdon ke ujung koridor. Ada sebuah pintu saja di sana. ”Griya tawang, seperti
istilah Anda,” ujar Kohler sambil menyeka keringat yang muncul di dahinya.
Langdon melihat pintu kayu ek di depan mereka. Plakat nama yang terdapat di sana bertuliskan:
Leonardo Vetra
”Leonardo Vetra,” kata Kohler, ”akan genap berusia 58 tahun minggu depan. Dia adalah salah
satu ilmuwan terpandai pada masa kini. Kematiannya merupakan kehilangan besar bagi dunia
ilmu pengetahuan.”
Saat itu Langdon melihat luapan perasaan Kohler dari wajahnya yang mengeras. Namun secepat
itu terlihat, secepat itu juga perasaan itu menghilang. Kohler merogoh sakunya dan mulai
memilah-milah seikat besar kunci.
Tiba-tiba Langdon merasa aneh. Gedung ini tampak sangat lengang. ”Ke mana orang-orang yang
lain?” tanyanya. Dia tidak melihat adanya kegiatan apa pun, padahal mereka akan memasuki
tempat kejadian pembunuhan.
”Penghuni lainnya sedang bekerja di lab,” jawab Kohler. Tangannya sudah berhasil menemukan
kunci pintu tersebut.
”Maksud saya polisi,” jelas Langdon. ”Apakah mereka sudah pergi?”
Kohler berhenti. Sesaat, kuncinya berhenti di udara. ”Polisi?”
Mata Langdon bertemu dengan mata sang direktur. ”Polisi. Anda mengirimi saya selembar faks
berisi sebuah gambar pembunuhan. Anda pasti sudah menelepon polisi.”
”Aku belum memanggil mereka.”
Apa?
Mata kelabu Kohler menajam. ”Situasinya rumit, Pak Langdon.”
Langdon mulai dilanda rasa cemas. ”Tetapi ... tentunya ada orang lain yang tahu ten tang hal ini!”
”Ya. Putri angkat Leonardo. Dia juga ahli fisika di CERN. Mereka berdua bekerja di lab yang
sama. Mereka adalah rekan kerja. Nona Vetra sudah pergi selama satu minggu untuk melakukan
penelitian lapangan. Saya sudah memberitahukan kematian ayahnya, dan dia sedang menuju ke
sini saat kita sedang berbicara sekarang.”
”Tetapi orang ini telah dibun—”
”Sebuah investigasi resmi,” sela Kohler dengan tegas, ”akan dilakukan. Walau bagaimana,
penyelidikan itu akan membuat digeledahnya lab Vetra, sebuah ruangan yang sangat pribadi bagi
mereka berdua. Karenanya, kami harus menunggu sampai Nona Vetra kembali. Aku merasa harus
berusaha untuk sedikit merahasiakannya. Demi Nona Vetra.”
Kohler akhirnya memutar kunci itu.
Ketika pintu terbuka, hembusan udara sedingin es mendesis dari ruangan dan menerpa wajah
Langdon. Dia merasa sangat bineung. Langdon memandang ke dalam ruangan yang terasa sangat
asing baginya. Ruangan di depannya seperti terbenam dalam kabut putih tebal. Kabut tidak
tembus pandang itu berputarputar di antara perabotan ruangan tersebut.
”Apa ini ...?” seru Langdon.
”Sistem pendingin freon,” jawab Kohler. ”Saya membekukan flat ini untuk mengawetkan mayat
itu.”
Langdon mengancingkan jasnya untuk menahan dingin. Aku benar-benar berada di negeri para
peri, katanya lucu. Dan aku lupa membawa serta sandal ajaibku.
9
MAYAT YANG TERGELETAK di hadapan Langdon tampak mengerikan. Mendiang Leonardo
Vetra terbaring terlentang, ditelanjangi, dan kulitnya berwarna kelabu kebiruan. Tulang lehernya
mencuat ke luar di tempat yang patah, dan kepalanya di putar ke belakang dengan sempurna,
dan mengarah ke arah yang salah. Wajahnya tidak terlihat karena terpelintir mencium lantai.
Lelaki itu terbaring di atas genangan urin bekunya, rambut di sekitar kemaluannya yang membeku
berserabut karena bunga es.
Untuk melawan perasaan mualnya, Langdon mengalihkan tatapannya ke arah dada korban. Walau
Langdon telah melihat luka simetris itu lusinan kali di kertas faks yang diterimanya, luka bakar itu
tampak sangat meyakinkan ketika melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Daging yang
terkelupas dan terpanggang itu betul-betul menggambarkan ... simbol yang terbentuk dengan
sempurna.
Langdon bertanya-tanya apakah rasa dingin yang menggigit ini hanya berasal dari pengatur udara
atau karena keheranannya yang luar biasa pada apa yang dilihatnya sekarang.
Jantungnya berdebar ketika dia berjalan mengitari mayat itu sambil membaca tulisan yang tertera
di dadanya dari arah atas untuk menegaskan kejeniusan simetris yang dilihatnya. Sekarang, simbol
itu terlihat luar biasa ketika dia melihatnya secara langsung.
”Pak Langdon?”
Langdon tidak mendengarnya. Dia sedang berada di dunia lain ... dunianya, bagiannya. Ini adalah
dunia tempat sejarah, mitos dan fakta saling bertabrakan, dan membanjiri benaknya.
”Pak Langdon?” Mata Kohler menyelidik penuh harap.
Langdon tidak mengalihkan pandangannya dari mayat itu. Perhatiannya sekarang semakin dalam
dan sangat terfokus. ”Apa saja yang Anda ketahui dari kata ini?” tanyanya kemudian.
”Hanya yang sudah kubaca dari situs Anda. Kata Illuminati berarti ’mereka yang tercerahkan’. Itu
adalah nama sebuah persaudaraan kuno.”
Langdon mengangguk. ”Anda pernah mendengar nama itu sebelumnya?”
”Tidak sampai aku melihatnya tercap pada tubuh Pak Vetra.”
”Jadi Anda membuka internet untuk mencari keterangan tentang itu?”
”Ya.”
”Dan kata itu menghasilkan ratusan petunjuk tentunya.”
”Ribuan,” kata Kohler. ”Namun situs Anda berisi informasi
A ri Harvard, Oxford, sebuah penerbit yang mempunyai reputasi u ik dan sebuah daftar dari
penerbit lain yang berhubungan. Sebagai seorang ilmuwan, saya tahu mutu informasi yang baik
berasal dari sumber yang baik. Informasi Anda tampak meyakinkan.”
Mata Langdon masih terpaku pada mayat itu.
Kohler tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menatap dan menunggu Langdon untuk memberikan
keterangan mengenai apa yang dilihatnya sekarang.
Langdon mendongak, dan melihat ke sekeliling ruangan yang membeku itu. ”Mungkin kita dapat
membicarakannya di tempat yang lebih hangat?”
”Kamar ini baik-baik saja.” Tampaknya Kohler terbiasa dengan suhu rendah. ”Kita berbicara di
sini saja.”
Langdon mengerutkan keningnya. Sejarah Illuminati tidak bisa dibilang sederhana. Aku akan mati
beku saat mencoba menjelaskannya. Langdon lalu menatap cap itu sekali lagi, dan merasa
bertambah kagum.
Walaupun kisah tentang lambang Illuminati merupakan legenda dalam simbologi modern, belum
ada ilmuwan yang betulbetul melihatnya. Berbagai dokumen kuno menjelaskan simbol itu sebagai
sebuah ambigram—ambi berarti ”bisa dua-duanya” dan itu maksudnya bisa dilihat dari dua sisi.
Dan walaupun ambigram sering terlihat di berbagai simbol seperti pada swastika, yin yang,
bintang Yahudi, dan salib sederhana, pemikiran bahwa sebuah kata dapat diukir menjadi sebuah
ambigram tampaknya sangat tidak mungkin. Para ahli simbologi
modern sudah bertahun-tahun mencoba untuk menulis kata Illuminati dengan gaya simetris, tetapi
mereka selalu gagal. Umumnya para ilmuwan sekarang memutuskan bahwa simbol itu hanyalah
sebuah mitos belaka.
Jadi, siapakah orang-orang Illuminati itu?” tanya Kohler mendesak.
*a, pikir Langdon. Siapa mereka sebenarnya? Dia lalu memulai ceritanya.
”Sejak awal peradaban,” jelas Langdon, ”sebuah jurang dalam telah terbentuk di antara ilmu
pengetahuan dan agama. Ilmuwan-ilmuwan yang berani bicara seperti Copernicus—”
”Dibunuh,” sela Kohler. ”Dibunuh oleh gereja karena mereka menguak kebenaran ilmiah. Agama
selalu menganiaya ilmu pengetahuan.”
”Ya. Tetapi pada tahun 1500-an, sebuah kelompok di Roma melawan gereja. Beberapa orang
Italia yang sangat terpelajar, seperti para ahli fisika, matematika, dan ahli astronomi, diam-diam
mulai mengadakan pertemuan untuk berbagi keprihatinan terhadap pengajaran gereja yang tidak
benar. Mereka takut kalau monopoli gereja pada ’kebenaran’ akan mengancam pencerahan
ilmuwan di seluruh dunia. Mereka mendirikan sebuah think tank, lembaga pemikir pertama di
dunia, dan menyebut diri mereka sendiri sebagai ’orang-orang yang tercerahkan.’”
”Kelompok Illuminati itu.”
”Ya,” sahut Langdon. ”Orang-orang paling pandai di Eropa ... mengabdi untuk mencari kebenaran
ilmiah.”
Kohler terdiam.
”Tentu saja kelompok Illuminati itu diburu dengan kejam oleh Gereja Katolik. Hanya karena
mereka dapat bersembunyi dengan baik, mereka bisa selamat. Pemikiran mereka pun tersebar ke
seluruh ilmuwan bawah tanah, dan persaudaraan Illuminati berkembang serta melibatkan seluruh
ilmuwan di seluruh Eropa. Para ilmuwan itu mengadakan pertemuan secara teratur di Roma di
sebuah markas yang sangat dirahasiakan yang mereka sebut Gereja Illuminati.”
Kohler terbatuk dan menggerakkan tubuhnya.
”Beberapa anggota kaum Illuminati,” lanjut Langdon, ”ingin melawan tirani gereja dengan
kekerasan, tetapi anggota yang paling mereka hormati membujuk mereka untuk tidak melakukan
itu. Dia adalah orang yang cinta damai dan seorang ilmuwan yang paling ternama dalam sejarah.”
Langdon yakin Kohler tahu nama ilmuwan itu. Bahkan orang awam pun mengenali seorang ahli
astronomi yang bernasib malang. Ilmuwan itu ditangkap dan hampir dihukum oleh gereja karena
meneatakan bahwa matahari, dan bukan bumi, adalah pusat tata surya. Walau fakta yang
dikemukakannya itu tidak dapat disangkal, ahli astronomi tersebut tetap di hukum berat karena
secara tidak langsung mengatakan bahwa Tuhan menempatkan manusia di tempat lain selain di
pusat semesta-Nya.
”Namanya Galileo Galilei,” kata Langdon.
Kohler mendongak. ”Galileo?”
”Ya. Galileo adalah seorang Illuminatus. Dan dia juga seorang Katolik yang taat. Dia berusaha
untuk memperlunak pemikiran gereja terhadap ilmu pengetahuan dengan mengatakan bahwa ilmu
pengetahuan tidak mengecilkan keberadaan Tuhan, tetapi malah memperkuatnya. Dia pernah
menulis ketika dia memerhatikan planet-planet yang berputar melalui teleskopnya, dia dapat
mendengar
suara Tuhan dalam musik alam semesta. Dia meyakinkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama
bukanlah musuh, tetapi rekanan—dua bahasa berbeda yang menceritakan sebuah kisah yang sama,
kisah ten tang simetri dan keseimbangan ... surga dan neraka, malam dan siang, panas dan dingin,
Tuhan dan setan. Ilmu pengetahuan dan agama keduanya bergembira bersama dalam simetri
Tuhan ... pertandingan tak pernah berakhir antara terang dan gelap.” Langdon berhenti sejenak lalu
menghentakkan kakinya supaya tetap hangat.
Kohler hanya duduk di atas kursi rodanya dan memerhatikan Langdon.
Celakanya,” lanjut Langdon, ”penggabungan ilmu pengetahuan dan agama tidak diinginkan
gereja.”
”Tentu saja tidak,” sela Kohler. ”Pengabungan itu akan menghancurkan apa yang sudah dikatakan
gereja sebagai satusatunya kendaraan yang dapat digunakan manusia untuk mengerti luhan. Jadi
gereja mengadili Galileo sebagai orang yang sesat, diputus bersalah dan dijatuhi hukuman tahanan
rumah seumur
hidup. Saya paham benar sejarah ilmu pengetahuan, Pak Langdon. Tetapi itu sudah terjadi
berabad-abad yang lalu. Apa hubungannya dengan Leonardo Vetra?”
Pertanyaan bagus. Langdon tidak menghiraukannya. ”Penangkapan Galileo membuat kaum
Illuminati bergejolak. Tapi mereka membuat kesalahan sehingga gereja dapat mengenali empat
orang anggota Illuminati. Mereka kemudian ditangkap dan diinterogasi. Tetapi keempat ilmuwan
itu tidak mengatakan apa-apa ... walau” pun mereka disiksa.”
”Disiksa?”
Langdon mengangguk. ”Mereka dicap hidup-hidup di dada mereka dengan simbol salib.”
Mata Kohler membelalak, dia menatap mayat Vetra dengan tatapan gelisah.
”Setelah itu para ilmuwan dibunuh dengan sadis, mayat mereka di buang di jalan-jalan di Roma
sebagai peringatan bagi yang lainnya supaya tidak bergabung dengan kaum Illuminati. Karena
serangan gereja yang begitu gencar, anggota Illuminati yang masih tersisa akhirnya melarikan diri
dari Italia.”
Langdon berhenti sesaat. Dia memandang mata Kohler yang menatap tanpa ekspresi. ”Kaum
Illuminati bergerak di bawah tanah dan mulai bergabung dengan para pelarian lainnya yang
berusaha menyelamatkan diri dari aksi pembersihan yang dilakukan gereja. Mereka adalah para
penganut aliran mistik, ahli kimia, pengikut ilmu gaib, dan orang-orang Muslim dan Yahudi.
Selama bertahuntahun, Illuminati menambah anggotanya. Sebuah Illuminati baru pun muncul.
Kelompok Illuminati yang lebih gelap. Kelompok Illuminati yang sangat anti-Kristen. Mereka
menjadi begitu kuat, mengadakan upacara-upacara misterius, kerahasiaan yang sangat tertutup,
dan bersumpah untuk bangkit lagi pada suatu hari untuk membalas dendam pada Gereja Katolik.
Kekuatan mereka berkembang sehingga gereja menganggap mereka sebagai suatu gerakan anti-
Kristen yang paling berbahaya di bumi ini. Vatikan mengolok mereka sebagai persaudaraan
Shaitan.”
”Shaitan?’
”Itu istilah dalam Islam. Artinya ’musuh’ ... musuh Tuhan. C reia sengaja memilih nama dari
istilah Islam karena itu adalah bahasa yang mereka anggap kotor.” Langdon meneruskan dengan
ragu-ragu. ”Shaitan adalah asal kata untuk kata bahasa Inggris ...
Satan.”
Kegelisahan terlintas di wajah Kohler.
Suara Langdon terdengar muram. ”Pak Kohler, saya tidak tahu bagaimana atau kenapa tanda itu
tercetak di dada Vetra ... tetapi Anda sedang melihat simbol dari sebuah perkumpulan setan
terkuat di dunia yang sudah lama tak tentu rimbanya.”
10
LORONG ITU SEMPIT dan lengang. Sekarang si Hassassin berjalan dengan cepat, mata
hitamnya memandang dengan waspada. Sesaat sebelum sampai ke tempat yang ditujunya, katakata
perpisahan Janus bergema di benaknya. Fase kedua
akan segera mulai. Beristimhatlah.
Si Hassassin menyeringai. Dia sudah tidak tidur sepanjang malam, tetapi tidur adalah pilihan
terakhirnya. Tidur adalah pekerjaan orang lemah. Dia seorang pejuang seperti nenek moyangnya
dahulu, dan bangsanya tidak pernah tidur begitu perang dimulai. Genderang perang jelas sudah
ditabuh, dan dia mendapat kehormatan untuk memulainya. Kini dia hanya memiliki waktu selama
dua jam untuk merayakan kejayaannya sebelum kembali bekerja.
Tidur? Ada cam yang jauh lebih baik untuk bersantai ....
oeleranya pada kesenangan duniawi merupakan sesuatu yang
tfurunkan oleh nenek moyangnya. Generasi sebelumnya selalu
menghibur diri dengan mengisap hashish, tetapi dia lebih meyukai
jenis hiburan yang lain. Dia bangga pada tubuhnya—
mesin pembunuh yang kuat dan dia tidak sudi untuk mengotorinya dengan narkotika. Dia
memiliki ketergantungan pada sesuatu yang lebih baik daripada obat bius ... hadiah yang jauh
lebih sehat dan memuaskan.
Merasakan gairah yang berkembang dalam tubuhnya, si Hassassin pun bergerak lebih cepat di
jalan sempit itu. Dia sampai di depan sebuah pintu yang berbentuk tidak biasa lalu membunyikan
belnya. Jendela intip di pintu itu terbuka dan dua mata berwarna cokelat lembut memandangnya
untuk menaksir penampilannya. Pintu pun akhirnya terbuka
”Selamat datang,” sapa seorang perempuan dengan pakaian yang apik. Dia mengantar si Hassassin
ke ruang duduk yang dihiasi oleh perabotan mahal dengan lampu yang temaram. Tercium wangi
parfum dan pengharum ruangan yang mahal. ”Kapan pun kamu siap.” Perempuan itu memberinya
sebuah album foto. ”Panggil aku jika kamu sudah menentukan pilihanmu.” Perempuan itu pun
menghilang.
Si Hassassin tersenyum.
Ketika dia duduk di atas sofa besar yang empuk dan meletakkan album foto itu dipangkuannya,
dia merasa gairahnya berputar. Walau bangsanya tidak merayakan Natal, dia bisa membayangkan
seperti inilah perasaan seorang anak Kristen ketika duduk di depan setumpukan hadiah Natal dan
ingin menemukan keajaiban di dalam hadiah-hadiah itu. Dia membuka album itu dan
memerhatikan foto-foto yang terdapat di sana dengan seksama. Fantasi seksual sepanjang
hidupnya hidup kembali dalam benaknya.
Marisa. Seorang dewi Italia. Berapi-api. Sophia Loren muda.
Sachiko. Seorang geisha Jepang. Luwes. Keahliannya tidak diragukan.
Kanara. Gadis berkulit hitam yang luar biasa. Bertubuh kencang. Eksotis.
Dia meneliti seluruh foto dalam album itu sebanyak dua kali lalu memutuskan pilihannya. Setelah
itu dia menekan sebuah tombol yang terletak di atas meja yang berada di sampingnya.
Reberapa saat kemudian perempuan yang tadi menyambutnya uncul kembali. Lelaki itu
menunjukkan pilihannya. Perempuan itu tersenyum. ”Ikuti aku.”
Setelah menyelesaikan pembayaran, perempuan itu menelepon dengan suara lirih. Dia menunggu
beberapa menit, lalu mengantar lelaki itu menaiki tangga putar dari pualam ke sebuah koridor
mewah. ”Pintu keemasan di ujung itu,” katanya. ”Seleramu mahal
juga.”
Memang begitu, jawab lelaki itu dalam hati. Aku ’kan pecinta
keindahan sejati.
Si Hassassin melangkah di sepanjang koridor seperti seekor macan kumbang menghampiri
santapan yang sudah lama dinantikannya. Ketika dia tiba di ambang pintu, dia tersenyum pada
dirinya sendiri. Pintu itu sudah terbuka sedikit seperti menyambutnya. Dia mendorongnya dan
pintu itu pun terbuka dengan mudahnya.
Ketika dia melihat pilihannya, dia tahu dia telah
memilih dengan tepat. Perempuan itu tepat seperti yang dikehendakinya ... telanjang, terbaring
terlentang, kedua lengannya terikat di kepala tempat tidur dengan pita beledu tebal.
Lelaki itu berjalan mendekat dan mengusapkan jarinya yang berwarna gelap di atas perut berkulit
putih dan mulus itu. Aku sudah membunuh orang kemarin malam, katanya dalam hati. Kamu
adalah hadiah untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar